Sebelum lebih lanjut kita memperbincangkan prihal baik dan buruk, marilah kita mengenali terlebih dahulu tentang apa sebenarnya kebaikan itu dan apa keburukan itu? Sebab pengertian tentang kebaikan dan keburukan masih rancu di benak kebanyakan orang.

Kebaikan ialah sesuatu yang mengantarkan anda ke suatu tujuan akhir yang tidak ada kesudahan lagi setelahnya. Manusia lahir ke dunia, lalu menjadi besar, lalu belajar dan mendapatkan Ijazah Sekolah Tingkat dasar (SD), lalu Ijazah Sekolah Menengah Tingkat Pertama (SMP), lalu Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SMA) Lalu studi di Universitas dan memperoleh Ijazah Bakalureat (SI), lalu mendapatkan gelar Magister (S2), lalu gelar Doktor (S3), setelah itu ia mengabdikan umurnya dan berkiprah dalam kehidupan dunia, lalu setelah itu ia tinggalkan dunia ini, kemudian ia dibangkitkan dari kuburnya, jikalau la seorang yang saleh masuklah ia ke dalam surga. Itulah kenikmatan yang kekal abadi, yang tidak ada kesudahan lagi setelahnya, yakni setelah ia masuk ke dalam surga berarti ia telah berada dipuncak dari segala pencapaian.

Jadi, tujuan yang hendak dicapai dalam hidup ini ialah sampai kepada kenikmatan surgawi. Tujuan ini tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali apabila kehendak anda singkron dengan kehendak Allah, ketika itulah anda telah mencapai kebaikan yang sejati, tidak ada lagi kebaikan di luar itu.

Sedangkan keburukan menurut tradisi kita ialah semua peristiwa yang bertabrakan dengan apa yang menjadi keinginan hati manusia. Maka setiap sesuatu yang anda inginkan atau anda cari, lalu tidak terwujud atau tidak berhasil, anda menganggapnya suatu keburukan, karena dari semula anda menginginkan terwujudnya apa yang anda harapkan itu, tetapi anda terhalang dari padanya.

Jika anda seorang pengusaha misalnya, dan anda telah melangsungkan suatu transaksi dengan pertimbangan bahwa anda akan memperoleh suatu keuntungan besar, tiba-tiba harga mengalami perubahan, sehingga yang seharusnya beruntung, anda menderita kerugian. Dalam kondisi seperti Itu anda beranggapan bahwa apa yang terjadi pada diri anda merupakan suatu keburukan.

Jika anda menginginkan suatu pekerjaan lalu anda tidak berhasil mendapatkannya, tentu anda menganggapnya suatu keburukan. Jika anda berjuang untuk mendapatkan suatu jabatan atau pangkat atau kekuasaan, lalu apa yang anda maksudkan itu tidak terwujud, anda menganggapnya suatu keburukan.

Ini semua menunjukkan bahwa pengertian ke­burukan menurut tradisi manusia adalah sesuatu yang bertabrakan dengan keinginan, cita-cita dan kemauan mereka, terlepas dari apakah sesuatu yang mereka inginkan itu sejalan dengan ketentuan Tuhan ataukah berlawanan. Manusia pada umumnya ketika ingin mewujudkan suatu tujuan, sepantasnyalah ia mencurahkan segala upaya untuk mencapainya.

Seorang murid yang bertujuan lulus dalam ujian misalnya, ia berangkat ke sekolah setiap hari, dan tidak tidur malam demi mempelajari pelajaran-pelajarannya serta bersabar menahan diri dari sekedarbersenang-senangbegadangbersama teman-temannya atau menyaksikan acara kesayangannya di Televisi, atau ikut serta bersama keluarga dalam kegiatan-kegiatan sosial, la mengurung dirinya dalam kamar tertutup untuk menekuni pelajaran-pelajarannya, dan tidak tidur kecuali sedikit hingga ia dapat mencapai tujuannya.

Pengalaman manusia menunjukkan bahwa orang yang selalu menuruti setiap keinginannya, tidaklah bisa mewujudkan kebaikan dalam hidupnya. Mengapa demikian? Sebab, untuk bisa mencapai suatu kebaikan, seseorang dituntut melakukan suatu tindakan nyata dan bersedia merasakan penderitaan serta rela berkorban.

Seorang murid yang menghabiskan seluruh waktunya untuk bermain, dan menuruti setiap apa yang menjadi keinginannya serta bersenang-senang setiap saat dalam senda gurau dan berseloroh, sesungguhnya ia berhasil meraih kesenangan sesaat untuk dirinya sendiri, tetapi ia gagal total mencapai suatu tujuan. Karena itulah, ia hidup tanpa masa depan, hidup yang tidak membahagiakan dirinya. Seperti itu pula halnya dengan segala yang ada di dunia ini.

Seorang pedagang yang tidak pandai mencarai barang dagangan yang bermutu dengan harga jual yang pantas bagi para pembeli, dan ia tidak memiliki sifat kejujuran dan amanat, pastilah mengalami kebangkrutan dan tidak mendapatkan sedikitpun apa yang diinginkannya.

Al Khoir wa Syar karya As-Syeikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi

Tulisan ini terkait erat dengan tulisan sebelumnya, disarankan untuk membacanya terlebih dahulu.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda:

الدنيا حلة حضرة وإن الله مستخلفكم فيها فناظر كيف تعملون , فاتقواالدنيا والتقوا النساء, فو الله ما الفقر أخشى عليكم, إنما أخشى أن تبسط عليكم الدنيا كما بسطت على من قبلكم فتنافسوها كما تنافسوها فتهلككم كما أهلكتهم

Artinya: “Dunia bagaikan sesuatu yang manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berkuasa didalamnya, maka perhatikanlah apa yang kalian perbuat, berhati-hatilah terhadap dunia, dan waspadailah para wanita, demi Allah bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian, sesungguhnya aku takut dibentangkannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, kalian saling berlomba didalamnya sebagaimana mereka berlomba untuk mendapatkannya, hingga dunia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.”

إن مما أخاف عليكم بعدي ما يفتح لكم من زينة الدنيا وزهرتها

Artinya: “Sesungguhnya yang aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah ketika ditampakkan kepada kalian keindahan kehidupan dunia, dan kemewahannya.”

إحذروها فإنها أسحر من هاروت وماروت

Artinya: “Waspadailah dunia, sesungguhnya ia lebih kuat daya sihirnya dari Harut dan Marut.”

الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر

Artinya: “Dunia merupakan penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.”

إن الله يذود الدنيا عن عبده المؤمن كما يذود الراعى الشفيق غنمه عن مراتع الهلكة

Artinya: “Sesungguhnya Allah menjauhkan dunia dari hamba-Nya yang mukmin sebagaimana seorang gembala yang baik hati yang melindungi kambing-kambingnya dari tempat yang membahayakan”

ذنب لا يغفر حب الدنيا

Artinya: ”Dosa yang tidak diampuni adalah cinta dunia.”

من أحب آخرته أضر بدنياه , ومن أحب دنياه أضر بآخرته , فآثروا ما يبقى على ما يفنى

Artinya: “Barangsiapa yang mencintai akhirat-nya niscaya ia mengorbankan dunianya, dan barangsiapa yang mencintai dunianya niscaya ia mengorbankan akhiratnya, maka utamakanlah sesuatu yang kekal (akhirat) daripada yang bakal sirna (dunia).”

مرة الدنيا حلوة الآخرة , حلوة الدنيا مرة الآخرة

Artinya: “Pahitnya dunia adalah manisnya akhirat, dan manisnya dunia adalah pahitnya akhirat”

الأكثرون هم الأقلون يوم القيامة إلا من قال هكذا وهكذا

Artinya: “Orang-orang yang kaya di dunia mereka adalah orang-orang yang miskin di hari kiamat kecuali orang yang berpesan: Keluarkan ini sekian, keluarkan itu sekian.”

ليجاءن بأقوام يوم القيامة لهم أعمال كجبال تهامة فتجعت هباء منثورا ويئمر بهم إلى النار كانوا يصلون ويصومون ويأخدون هينة من الليل , فإذا لاح لهم شيء من الدنيا وثبوا عليه

Artinya: “Kelak di hari kiamat digiring Suatu kaum, mereka memiliki amalan sebesar gunung Tihamah, tiba-tiba amalan itu hilang tak berbekas, dan mereka digiring ke api neraka, sedangkan dahulunya mereka rajin menjalankan shalat, puasa dan bangun malam,namun apabila nampak di hadapan mereka sedikit dari barang duniawi mereka langsung saling berebut untuk mendapatkannya.”

ما لي وللدنيا إنما مثل الدنيا كراكب سار في يوم صائف فقال تحت شجرة ساعة ثم راح

Artinya: “ Apa arti dunia bagiku?, sesungguhnyaperumpamaan antara aku dan dunia bagaikan seorang musafir yang berjalan di hari yang panas, lalu ia terteduh sebentar dibawah pohon, kemudian ia melanjutkan perjalanannya.”

من أصبح آمنا في سربه معافى في جسده عنده قوت يومه فكأنما حيزات إليه الدنيا بحذافيرها

Artinya: “Barangsiapa di pagi harinya aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, ia memiliki persediaan hari itu, maka seakan-akan telah disediakan dihadapannya dunia seisinya.”

بعثت لخراب الدنيا فمن عمرها فليس مني

Artinya: “Aku di utus  tidak  untuk  menumpuk-numpuk dunia, barangsiapa yang memakmurkannya berarti ia bukan golonganku.”

من كانت نيته الآخرة جعل الله غناه في قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهي رغمة , ومن كانت نيته الدنيا جعل الله الفقر بين عينيه وشتت عليه أمره ولم يأته من الدنيا إلا ما كتب الله له

Artinya: “Barangsiapa yang niatnya untuk akhirat, pastilah Allah menjadikan kepuasan di hatinya, mengurus segala urusannya, dan didatangkan dunia untuknya secara paksa. Dan barangsiapa yang niatnya ditujukan untuk dunia, pastilah Allah menjadikan kemiskinan selalu berada di depan matanya, membuat urusannya terbengkalai, dan dunia tidak menghampirinya kecuali apa yang telah Allah tentukan baginya.”

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل وعد نفسك من أهل القبور

Artinya: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang melintasi jalan, dan anggaplah dirimu sebagai salah seorang penghuni kubur.”

إزهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما أيدى الناس يحبك الناس

Artinya: ‘Tinggalkan kemewahan dunia, Allah akan mencintaimu, dan tinggalkan (serakah) pada sesuatu yang dimiliki manusia, engkau akan dicintai manusia.”

 الدنيا دار من لا دار له ومال من لا مال له ولها يجمع من لا عقل له وعليها يحزن من لا علم له وعليها يحسد من لا فقه له وبها يفرح من لا يقين له

Artinya: “Dunia adalah tempat tinggal bagi orang yang tidak memiliki tempat tinggal, dan harta bagi orang yang tidak memiliki harta, orang yang mengumpulkannya adalah orang yang tidak memiliki akal, orang yang bersedih atasnya adalah orang yang tidak memiliki ilmu,orang yang iri atas barang duniawi adalah orang yang tidak memiliki pemahaman, dan orang yang gembira terhadapnya adalah orang yang tidak memiliki keyakinan.”

ما يسكن حب الدنيا قلب عبد إلا التاط منها بثلاث : شغل لا ينفك عناه, وفقر لا يدرك غناه , وأمل لا ينال منتهاه

Artinya: “Kecintaan pada dunia apabila menetap dihati seseorang niscaya akan melekat padanya tiga perkara: tidak terlepas dari kesibukan yang melelahkan, tidak merasakan cukup selalu dalam kefakiran, dan angan-angan yang tidak pernah akan pernah tercapai.”

إن الدنيا والآخرة طالبتان ومطلوبتان , فطالب الآخرة تطلبه الدنيا حتى يستوفى رزقه, وطالب الدنيا تطلبه الآخرة حتى يأخد الموت بعنقه

Artinya: “Sesungguhnya dunia dan akhirat keduanya mencari dan dicari, orang yang mencari akhirat akan dikejar oleh dunia sampai merasa cukup akan rizkinya, sedangkan para pencari dunia maka akhirat akan mengejarnya sampai maut datang menjemputnya.”

ألا وإن السعيد من آثر باقية يدوم نعيمها على فانية لا ينفذ عذابها , وقدم لما يقدم عليه مما هو الآن في يديه قبل أن يخلفه لمن يسعد بإنفاقه وقد شقي وهو يجمعه واحتكاره

Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang mengutamakan kesenangan abadi dari pada kesenangan yang fana yang adzabnya terus-menerus, dan ia mendahulukan apa saja yang akan menjadi bekalnya, dari apa saja yang saat ini berada di tangannya sebelum ia mewariskannya bagi siapa yang beruntung dengan menafkahkannya, sedang ia telah celaka dengan mengumpulkannya dan menimbunnya.”

تعس عبد الدنيا وانتكس فإذا شيك فلا انتقش

Artinya: “Celaka dan terjungkirlah orang yang mengabdi kepada dunia, jika ia terkena duri pastilah ia tidak dapat dicabut.”

[Menuju Akhirat Dengan bekal Taqwa Bagian 14]

Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli Khair Wad-Din Karya al-Alamah al-Habib Abdullah bin Alwi al Haddad
Allah SWT memperingatkan kita tentang sebab lainnya di antara sebab-sebab hilangnya kenikmatan, dalam firman-Nya :

ولا تحاضون على طعام المسكين
 (Dan kamu tidak saling mangajak memberi makan orang miskin). Qs Al-Fajr : 18

Artinya sebagian kamu tidak saling mendorong kepada sebagian yang lain untuk memberi makan orang miskin yang tidak mendapatkan apa yang dapat mencukupi kebutuhannya. Ada yang mengatakan bahwa orang fakir adalah orang yang tidak memiliki apa-apa sama sekali, sementara orang miskin adalah orang yang memiliki sesuatu, tetapi tidak mencukupi kebutuhannya. Hal itu didasarkan pada firman allah SWT:

أما السفينة فكانت لمساكين يعملون فى البحر
(Adapun perahu, maka ia milik orang-orang miskin yang bekerja (sebagai nelayan) dilaut).Qs Al-Kahfi: 79

Jadi, orang miskin ialah orang yang tidak mendapatkan apa yang cukup untuk memenuhi hajat hidupnya. Sebab, para nelayan itu adalah orang-orang miskin, namun demikian mereka memiliki perahu.

Termasuk penyebab hilangnya nikmat ialah kema­lasan berbuat baik dari dirinya sendiri, bahkan kadang kala ia menghasut orang lain untuk tidak memberi makan orang-orang miskin, padahal permintaan ma­kanan adalah sejujur-jujur permintaan.

Jika ada seseorang yang meminta anda uang, bisa jadi ia sendiri mempunyai uang yang ia simpan. Dan jika ada seseorang yang meminta anda pakaian, bisa jadi ia sendiri tidak membutuhkan pakaian, tetapi ia memintanya untuk dijual. Beda dengan orang yang meminta anda sepotong roti untuk ia makan, pastilah ia orang yang sedang kelaparan yang tidak menemukan makanan, karena itulah permintaan makanan adalah sejujur-jujur permintaan.

Orang yang menolak memberi makan orang miskin dan merintangi orang lain untuk berbuat baik memberi makan orang miskin, sesungguhnya ia adalah orang yang telah berbuat dosa besar yang menyebabkan hilangnya nikmat. Allah SWT berfirman:

وتأكلون  التراث أكلا لما,وتحبون المال حبا جما
{Kamu memakan harta warisan dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil, dan l(amu menicintai harta secara berlebihan ). Qs Al-Fajr : 19-20

Ini faktor lain yang menyebabkan hilangnya nikmat, yaitu memakan harta warisan yang menjadi hak orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan. Memakan hak mereka ketika mereka masih kecil, dan melakukan siasat jahat untuk memperoleh sebagian hak mereka ketika mereka sudah besar, terutama bilamana sang pemilik harta itu telah meninggal dunia. Seseorang membuat trik-trik buruk tanpa khawatir permainannya terungkap oleh orang lain. Dengan cara-cara licik seperti itu ia mendapatkan harta haram yang dapat mendatangkan hukuman dari Allah di dunia ini dengan hilangnya kenikmatan, di samping siksa yang menunggunya di akhirat kelak.

[Bagian ke-13]

Sumber : Terj. Al Khoir wa Syar karya As-Syeikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi

Agama yang benar hanyalah satu adanya. Semua nabi dan rasul diutus Allah untuk sama-sama menyeru kepada agama yang benar itu, yaitu mengajak umat manusia untuk berpegang padanya, sejak zaman Nabi Adam A.s. sampai Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Aalihi wa Shahbihi wa Sallam. Agama yang dimaksud adalah Islam.

Untuk membawa agama itu, Allah S.w.t. telah mengutus Ibrahim, Ismail, dan Ya’qub. Allah S.w.t. berfirman: ‘Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang soleh. Ketika Tuhannya berfirman kepadanya, ‘Tunduk patuhlah!’ Ibrahim menjawab, ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan Semesta Alam.’ Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata,) ‘Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu. Maka, janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam’,” (QS Al- Baqarah [2]: 130-133).

Selain itu, Allah S.w.t juga mengutus Nabi Musa A.s kepada Bani Israil untuk menyampaikan agama itu Allah S.w.t berfirman berkenaan dengan para ahli sihir Fir’aun, “Ahli-ahli sihir itu menjawab, `Sesungguhnya kepada Tuhanlah kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.(’mereka berdoa,’) ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu),'” (OS Al-A’raf [7]: 126-127).

Untuk membawanya pula, Allah Swt. mengutus Nabi Isa as. Allah Swt berfirman, “Maka, tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani israil)berkatalah dia,’Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para hawariyyun (sahabat-sahabat setia) menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri,'” (QS Ali lmran [3]: 52).

Jika ada yang bertanya, mengapa orang-orang yang mengklaim sebagai pengikut setia Nabi Musa A.s. sekarang berpegang pada akidah yang bukan tauhid, seperti dibawa para nabi dan rasul? Mengapa orang-orang yang mengklaim sebagai pengikut Nabi Isa A.s. sekarang berpegang pada akidah yang juga lain?

Menjawab pertanyaan tersebut, Allah S.w.t berfirman di dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang orang yang telah diberi Al- Kitab, kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka.,” (QS Ali Imran [3]: 19).

Dalam surat Al-Syura, Allah S.w.t, juga berfirman, “Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik, agama yang kamu seru kepada mereka. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya) Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Tourat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang mengguncangkan tentang kitab itu,” (QS Al-Syura [42]. 13-14).

Jadi, semua nabi dan rasul diutus untuk membawa Islam, satu-satunya agama yang diridhai Allah S.w.t. Kalangan ahli kitab sebenarnya mengetahui ketunggalan agama ini, sebagaimana mereka juga mengetahui bahwa semua nabi dan rasul diutus untuk saling membenarkan agama yang mereka bawa. Tak ada perselisihan mencolok dalam masalah akidah. Perselisihan itu muncul karena mereka bersilang pendapat soal hal-hal yang justru tidak pernah dikatakan nabi mereka disebabkan “karena mereka dengki antara mereka sendiri”. Begitulah sebagaimana ditegaskan oleh Allah S.w.t.

[Fiqih Sirah bagian 12]

Fiqih Sirah ~ Asy Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi

"Banyak ungkapan hikmah dari para wali yang menunjukkan betapa hinanya dunia ini dan betapa cepat kehancurannya orang yang bersandar kepadanya"

Terdiri atas ayat-ayat dari Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Aalihi wa Shahbihi wa Sallam dan Atsar tentang ungkapan-ungkapan hikmah dari para wali Allah SWT yang menunjukkan betapa hinanya dunia ini, dan betapa cepat kehancurannya serta kebodohan orang yang tertipu dan bersandar kepadanya, dan riwayat tentang sikap zuhud terhadap dunia bagi orang yang memandangnya sedang ia memiliki hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang ia menyaksikan.

Allah SWI berfirman, dan firman-Nya adalah sebenar-benarnya perkataan:

إنما مثل الحياة الدنيا كماء أنزلناه من السماء فاختلط به نبات الأرض مما يأكل الناس والأنعام حتى إذا أخذت الأرض زخرفها وازينت وظن أهلها انهم قادرون عليها أتاها أمرنا ليلا أو نهارا فجعلناها حصيدا كأن لم تغن بالأمس كذلك نفصل الايات لقوم يتفكرون

Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, ia lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir” (Qs. Yunus: 24)

إنا جعلنا ما على الأرض زينة لها لنبلوهم أيهم أحسن عملا. وإنا لجاعلون ما عليها صعيدا جرزا

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang diatasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” (Qs. Al-Kahfi: 7-8)

ولا تمدن عينيك إلى ما متعنا به أزواجا منهم زهرة الحياة الدنيا لنفتنهم فيه ورزق ربك خير وأبقى

Artinya: “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal”   (Qs. Thaaha: 131)

من كان يريد حرث الآخرة نزد له في حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له في الآخرة من نصيب

Artinya: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.”   (Qs. Asy-Syuura:20)

اعلموا أنما الحياة الدنيا لعب ولهو وزينة وتفاخر بينكم وتكاثر في الأموال والأولاد كمثل غيث أعجب الكفار نباته ثم يهيج فتراه مصفرا ثم يكون حطاما وفي الآخرة عذاب شديد ومغفرة من الله ورضوان وما الحياة الدنيا الا متاع الغرور

Artinya: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”  (Qs. Al-Hadid : 20)

فأما من طغى . وآثر الحياة الدنيا . فإن الجحيم هي المأوى.

Artinya: “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).”  (Qs-An-Naazi’at: 37-39)

Rasulullah Shalallahu Aalaihi wa Aaalihi wa Shahbihi wa Sallam bersabda:

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكرالله وعالم ومتعلم, فلو كانت الدنيا تزن عندالله جناح بعوضة ما سقى منها كافرا شربة ماء

Artinya: “Dunia itu terlaknat, terlaknatlah apa yang ada didalamnya, kecuali dzikir kepada Allah, orang alim dan orang yang belajar, andaikan dunia memiliki nilai disisi Allah meski sebesar sayap seekor lalat, pastilah Allah tidak akan memberi seorang kafir seteguk air darinya.”

الدنيا جيفة قذيرة

Artinya: “Dunia bagaikan bangkai yang menjijikkan.”

إن الله تعالى جعل ما يخرج من ابن آدم مثلا للدنيا

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan apa yang keluar dari tubuh anak Adam sebagai perumpamaan dunia.”

ما الدنيا في الأخرة الا مثل ما يضع أحدكم إصبعه في اليم فينظر بماذا يرجع

Artinya: “Dunia jika dibandingkan dengan akhirat tak lain seperti salah seorang dari kalian meletakkan satu jarinya kedalam sungai, kemudian ia melihat seberapa banyak air yang melekat di jarinya.”

ليودن كل أحد يوم القيامة أنه ما أعطي من الدنيا كان قوتا

Artinya: “Kelak di hari kiamat setiap orang sangat berkeinginan apa yang dahulu telah diberikan padanya dari barang duniawi hanyalah sebatas makanan pokoknya saja”

إن بين أيديكم عقبة كئودا لا يجوزها إلا المخفون

Artinya: “Sesungguhnya di hadapan kalian ada tanjakan yang tajam, tidak ada yang dapat melampauinya melainkan orang-orang yang ringan.”. Seorang bertanya: “Apakah aku termasuk orang yang ringan wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda: “Apa engkau memiliki makanan keseharianmu?” Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: ”Engkau memiliki makanan untuk esok?” Ia menjawab: "Tidak”. Beliau bersabda: ”Apabila engkau memiliki makanan untuk esok berarti engkau bukan tergolong orang-orang yang ringan.”.

[Menuju Akhirat Dengan bekal Taqwa Bagian 13]

Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli Khair Wad-Din Karya al-Alamah al-Habib Abdullah bin Alwi al Haddad

Banyak orang berpendapat, pemeluk agama sesat dan pemuja peradaban yang rusak akan sulit diobati sebab mereka memandang baik kerusakan yang menjangkiti diri mereka, bahkan membanggakannya. Adapun mereka yang berada dalam fase pencarian akan lebih mudah menerima kebodohan karena tidak akan membanggakan tamadun atau peradaban yang mereka sendiri belum mencapainya. Kelompok yang kedua ini tentu lebih mudah untuk diobati dan diarahkan. Ini tentu bukan hikmah Ilahiah yang kita maksud karena analisis seperti ini hanya pantas dilakukan oleh mereka yang mempunyai kemampuan terbatas dan jengah bersusah –payah.

Kalau saja Allah Swt berkehendak menjadikan Islam lahir di tempat lain, seperti Persia, Romawi, atau India, pastilah Dia menyiapkan segala sesuatu yang mendukung keberhasilan dakwah di sana, sebagaimana yang Dia siapkan di Semenanjung Arab. Demikian itu tidaklah sulit bagi Allah Swt karena Dialah Zat Yang Maha Menciptakan segala sesuatu.

Hikmah terpilihnya Semenanjung Arab ini senada dengan hikmah terpilihnya Rasulullah yang ummi alias tidak dapat membaca dan menulis. Bagi Allah, demikian itu bisa jadi agar manusia tidak meragukan misi kenabian yang diemban Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Selain itu, Allah Swt. mengunci mati semua pintu keraguan terhadap keabsahan dakwah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Hal lain yang turut menyempurnakan hikmah ilahiah yang sedang kita bicarakan ini ialah, lingkungan tempat tinggal rasul yang buta huruf itu memang seharusnya lingkungan yang juga “buta huruf”, berbeda dengan semua bangsa yang ada di sekitarnya. Maksudnya, bangsa Arab kala itu adalah bangsa yang belum “terkontaminasi” peradaban yang ada di sekelilingnya, Pikiran mereka belum dicemari berbagai macam filsafat yang tidak jelas ujung-pangkalnya.

Hikmah Ilahiah lainnya adalah menyingkirkan keraguan dari dada semua manusia. Tidaklah mudah untuk dipercaya, andaikata nabi yang diutus Allah Swt. dari kalangan terpelajar yang menguasai kitab-kitab kuno, sejarah bangsa-bangsa purba, dan peradaban di sekitarnya. Di samping itu, Allah Swt. juga ingin menyingkirkan keraguan manusia, seandainya dakwah Islam lahir di tengah bangsa berperadaban tinggi dan memiliki pemikiran filsafat yang sudah terbangun, semisal Persia, Yunani, atau Romawi. Jika itu terjadi, pasti akan muncul banyak “setan” yang menyangkal kenabian Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. Mereka akan menuduhnya sebagai upaya eksperimental-kebudayaan atau sebagai salah satu pemikiran filsafat belaka.

Berkenaan dengan hikmah Ilahiah ini, Al-Qur’an secara gamblang menyatakan, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rosul di antara mereka, yang membacakan ayat ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Al Sunnah) Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS Al-Jumu’ah [62]: 2)

Memang sudah kehendak Allah untuk memilih utusan yang buta huruf .Adalah kehendak-Nya memilih tempat kelahiran rasul pilihan-Nya di tengah bangsa yang sebagian besar masyarakatnya buta huruf. Tujuannya agar mukjizat kenabian dan syariat Islam dapat menyala terang di dalam dada setiap insan, tanpa harus dikotori berbagai paham dan ajaran karsa kreatif manusia. Hal ini menunjukkan, betapa besar rahmat Allah Swt bagi hamba-hamba-Nya.

Selain itu masih ada beberapa hikmah yang dapat disimpulkan penulis dalam poin-poin berikut Ini.

Sebagaimana diketahui bersama, Allah Swt menjadikan Baitullah sebagai “tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia”. Selain itu, menjadikannya sebagai rumah pertama yang dibangun untuk manusia”, sebagai tempat penyelenggaraan ibadah dan mendirikan syiar agama. Di lembah itu pulalah Allah Swt. jauh sebelumnya telah mengukuhkan dakwah bapak para nabi, Ibrahim as. Dengan segala bentuk keistimewaan itu, kawasan yang penuh berkah ini memang layak menjadi “buaian” bagi dakwah Islam yang merupakan kelanjutan millah Ibrahim, menjadi tempat kelahiran dan diutusnya nabi terakhir yang masih keturunan langsung dari Nabi Ibrahim as

Jika ditinjau dan letak geografis Semenanjung Arab yang dipilih Allah Swt.sebagai tempat kelahiran dakwah agung ini, seperti yang telah kami sebutkan di muka, kawasan ini memang terletak tepat di tengah-tengah berbagai bangsa yang ada di sekelilingnya. Letak Semenanjung Arab yang strategis ini ikut mendukung penyebaran dakwah Islam ke tengah bangsa-bangsa itu menjadi jauh lebih mudah dilakukan

Jika memperhatikan perjalanan dakwah Islam di tempat kelahirannya dan pada masa kepemimpinan para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, Anda pasti dapat melihat jelas kebenaran pendapat ini.

Allah Swt. telah berkehendak menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa dakwah Islam .Selain itu, Allah Swt. juga menjadikan bahasa Arab sebagai alat pertama untuk menerjemahkan” firman allah yang kemudian disampaikan kepada kita.

Kalau saja mau meneliti karakter berbagai macam bahasa yang ada di dunia, kita pasti dapat mengetahui bahwa bahasa Arab sedemikian istimewa dibandingkan bahasa-bahasa yang lain. Oleh karena itu, pantaslah ia dijadikan bahasa utama umat Islam yang tinggal di seluruh penjuru dunia.

[Fiqih Sirah bagian 10]

Sumber Fiqih Sirah Asy Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthi

Kewajiban apa yang pertama kali bagi setiap orang? Kewajiban yang pertama kali bagi setiap orang mukallaf adalah mengenal Allah, yang Menciptakannya dari tidak ada menjadi ada. Ia diciptakan oleh-Nya semata-mata untuk beribadah.

Mengenal pada mulanya memerlukan mengetahui yang disembah, yakni mengetahui Dzat, sifat dan perbuatan-Nya menurut cara yang terpuji, Allah SWT berfirman:

وما خلقت الجن والإنس إلاليعبدون

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. 51,Adz-Dzariyat: 56)

Bagaimana cara mengenal Allah S.w.t? Cara mengenal Allah itu ada dua, yaitu:

Pertama, dengan cara mendengar dan mengutip, artinya mendengar apa yang telah diberitakan oleh Allah SWT. tentang nama-nama-Nya yang mulia dan sifat- sifat-Nya yang sempurna di dalam kitab-kitab suci-Nya dan melalui lisan-lisan para rasul-Nya. Dia berfirman:

هوالله الذي لاإله إلاهو عالم الغيب والشهدة هوالرحمن الرحيم ,هوالله الذي لاإله الا هوالملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار المتكبر.سبحانالله عمايشركون هو الله الخا لق البارئ المصور له الأسماء الحسنى يسبح له ما فى السموات والأرض وهو العزيز الحكيم

“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yangMahaSuci yang Maha Sejahtera yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna, bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi, dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 59, al-Hasyr 22-24)

Di dalam hadits disebutkan:

ان لله تسعة وتسعين اسما من هحصاها دخل الجنة هو الله الذي لااله الا هوالرحمن الرحيم الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيزالجبار المتكبر الخالق البارئ المصور الغفار القهار الوهاب الفتاح العليم القابد الباسط الخافض الرافع المعز المذل السميع البصير الحكام العدل اللطيف الخبير الحليم العظيم الغفور الشكور العلي الكبير الحفيظ المغيث الحسيب الجليل الكريم الكريم الرقيب المجيب الواسع الحكيم الودود المجيد البعيث الشهيد الحق الوكيك القوي المتين الولي الحميد المحصي المبدئ المعيد الالمحي المميت الحي القيوم الوجيد المجيد الواحد الصمد القادر المقتدر المقدم المؤخر الاول الاخرالظاهر الباطن الوالي المتعال البار التواب المنتقم العفو الرعوف المالك الملك ذوالجلال والاكرام المقسط الجامع الغني المغني المانع الضار النافع النور الهادي البديع الباقى الوارث الرشيد الصبور

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam; bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 asma; barangsiapa menghafal semuanya akan dimasukkan ke dalam surga:

1.Allah (Tuhan). 2. Ar Rahman (Pengasih). 3. Ar Rahim (Penyayang) 4. Al Malik (Merajai). 5.AIquddus (Bersih, Suci tak bercacat). 6. As Salam (Sejahtera) 7. Al Mu’min (Pemberi keamanan bagi hambanya). 8. Al Muhaimin (Yang Menyatakan dirinya Esa). 9. Al ‘aziz (Gagah tak terkalahkan). 10. Al Jabbar (Kuat dan Gagah). 11. Al Mutakabbir (Besar Gagah). 12. Al Khalik (Pencipta makhluk). 13. Al Bari (Pembikin makhluk). 14. AlMushawwir (Pembentuk makhluk). 15. Al Ghaffar (Pengampun dosa). 16. Al Qahhar (Gagah perkasa). 17. Al Wahhab (Pemberi). 18. Ar Razzaq (Pemberi rizki). 19. Al Fattah (Pembuka pintu rahmat). 20. Al Alim (Tahu segala-galanya). 21. Al Qabidh (Penahan). 22. Al Basith (Pemberi rizki dengan mudah). 23. Al Khafidh (Yang Menurunkan). 24. Ar Rafi (Yang Mengangkat). 25 Al Mu’iz (Yang Memberi kemuliaan). 26. Al Mudzil (Yang Memberi kehinaan). 27. AlSami’ (Yang Mendengar). 28. Al Bashir (Yang Melihat). 29. Al Hakam (Bijaksana). 30. AL ‘Adl (Adil). 31. Al Lathif (Halus). 32. Al Khabir (Yang Mengetahui yang tersembunyi). 33. Al Halim (Penyantun). 34. Al ‘Azhim (Besar). 35. Al Ghafur (Pengampun). 36. As Syakur (Pemberi upah). 37. Al ‘Ali (Tinggi). 38. Al Kabir (Besar). 39. Al Hafidz (Pemelihara). 40. ALMuqit (Pemberi makanan). 41. Al Hasib(Penghitung). 42. AlJalil (Bersifat kebesaran). 43. Al Karim (Yang Mulia) 44. Ar Ragib (Yang Mengamat amati). 45. Al Mujib(Yang Memperkenankan doa) 46. Al W asi (Yang Luas ilmu-Nya). 47. Al Hakim (Yang Pintar). 48. AlWadud (Penyayang). 49. Al Majid (Yang paling Mulia). 50. Al Ba’its (Yang Membangkitkan). 51. Al Syahid (Yang Menghadiri seluruhnya). 52. Al Haaqu (Yang tetap Ada). 53. AL Wakil (Yang Mengurus pekerjaan hambaNya). 54. Al Qawi (Kuat). 55. Al Matiin (KukuhKuat). 56. AL Wali (Yang Menjaga makhluk). 57. Al Hamid (Yang Dipuja). 58. ALMuhshi (Yang Menghitung). 59. Al Mubdi’ (Yang Menciptakan). 60. Al Mu’id (Yang Menghidupkan kembali). 61. Al Muhyi (Yang Menghidupkan). 62. Al Mumit (Yang Mematikan). 63. Al Hayu(Yang Hidup). 64. Al Qayyum(yang Tegak). 65. AL Wajib (Yang Memberi sesuatu). 66. AL Majid (Yang Besar keadaanNya). 67. AL Wahid (Tunggal). 68. As Shamad (Yang Dituju). 69. AL Qadir (Yang Kuasa). 70. Al Muqtadir (yang Kuasa). 71. Al Muqaddim (Yang Mendahulukan). 72. Al Muakhkhir (Yang Mengemudiankan). 73. Al Awwal (Yang Qodim tak berpermulaan). 74. Al Akhir(Yang Baqa selamalamanya). 75. Al Dhahir (Yang Mempelihatkan wujudNya dengan tandatandaNya). 76. Al Bathin (Yang Tersembunyi DzatNya). 77. AL Wali (yang Menguasai seluruhnya). 78. AL Muta’li (Yang Bersih dari sekalian sifat kekurangan). 79. AL Barru (Yang banyak kebaikannya). 80. At Tawwab (Penerima tobat). 81. Al Muntaqim (Yang Menghukum siapa yang patut dihukum). 82. Al ‘Afuwwu (Yang Memberi maaf siapa yang patut dimaafkan). 83. Ar-Ra’uf (Besar kasih sayangNya). 84. Al Malikul Mulki (raja sekalian raja). 85. Dzul jalal Wal Ikram (Mempunyai kebesaran dan kemuliaan). 86. AlMuqsith(Yang Memperhatikan orang teraniaya). 87. Al Jami’ (Penghimpun makhluk hari kiamat). 88. Al Ghaniy (Yang Kaya raya). 89. Al Mughniy (Yang Mengayakan). 90. Al Mani’ (Yang Melarang). 91. Ad Dhaar(Yang Memberi madharat). 92. An Nafi’ (Banyak Memberi manfaat). 93. An Nur (Pemberi cahaya). 94. Al Hadi (Pemberi petunjuk). 95. Al Badi’ (Yang Mengadakan sesuatu). 96. AL Baqi (Yang Kekal selama lamanya). 97. AL Warits (Yang Kekal sesudah semuanya habis). 98. Al Rasyid (Yang Cerdik Cendekia). 99. As Shabur (Penyantun, tak terburu-buru)”

Kedua, dengan akal, maksudnya memfungsikan akal fikiran untuk merenungkan tentang alam raya (makhluk) ini dan mengambil pelajaran dari semua kejadian, kemudian menjadikan semua itu sebagai dalil atau bukti Yang Maha Menciptakannya, yang tiada lain adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

Allah SWT. berfirman:

إن في خلق السموات والأرض واختلاف الليل والنهار والفلك التي تجري في البحري بما ينفع الناس وما أنزل الله من السماء من ماء فأحيا به الارض بعد موتها وبث فيها من دابة وتصريف الرياح والسحاب المسخر بين السماء والارض لايا ت لقوم يعقلون

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang telah Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi setelah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dari pengisaran angin dan awan yang telah dikendalikan antara langit dan bumi sungguh (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. 2, al-Baqarah 164)

[Bagian 1]

Kitab al-Ajwibah al-Ghaliyah Fi ‘Aqidah al -Firqah an-Najiyah Karya Habib Zain bin Ibrahim bin Smith