Katakanlah, “Laa (tiada) – di saat itu hadirkanlah hatimu untuk menafikan segala sesuatu selain-Nya dari hatimu – Ilaaha (Tuhan),” kemudian ucapkan, “Illallaah (selain Allah),” dengan merasakan dan menghadirkan makna-makna menetapkan nur Allah, karunia Allah, anugerah Allah, ridha Allah, ke dalam hatimu.

Riya’ termasuk paling berat dan paling berbahayanya penyakit yang menimpa hati. Karenanya hendak­lah seorang mukmin berupaya dengan sung­guh-sungguh untuk mengetahui ha­kikat penyakit ini, pengetahuan tentang bagaimana memeriksa hatinya.

Wahai murid peniti jalan menuju Allah SWT, periksalah hatimu, berapa kalikah di saat engkau berdzikir lalu terlintas di dalam benakmu, “Kalau saja si Fulan da­tang dan melihatku!”?!

Berapa kali, di saat engkau shalat di keheningan malam, lalu saudarimu, ayah­mu, ibumu, atau istrimu membuka pin­tu dan melihatmu kemudian engkau me­rasa tenteram dan senang karena me­reka melihatmu di saat shalat?!

Berapa kalikah engkau bersedekah dan engkau menunggu-nunggu ungkap­an terima kasih dari si penerima dan menunggu-nunggu untuk disebut-sebut, “Si Fulan sudah berbuat ini dan itu”?! Eng­kau menolehkan pandangan kepada ma­nusia pada saat berbuat amal.

Berapa kalikah engkau menghitung di saat berbuat amal shalih terlintas di da­lam benakmu pada saat manusia me­lihat­mu mereka akan memuji dirimu?!

Jujurlah kepada Allah SWT. Katakan pada apa yang terjadi antara dirimu de­ngan nafsumu.

“Benar, ya Allah, demikianlah ada­nya. Karenanya aku memohon kepada-Mu agar Engkau mengampuniku. Aku benci lintasan ini.”

Para ulama mengatakan, penangkal riya’ yang pertama adalah rasa benci ter­hadap riya’ yang ada di dalam hatimu. Eng­kau memandang riya’ dengan pan­dangan kebencian. Ketika datang lintas­an riya’ di dalam hatimu, hendaklah eng­kau membencinya dan katakan, “Wahai nafsu yang mengajak kepada keburuk­an, ting­galkanlah kehinaan ini. Wahai nafsu, raihlah ketinggian. Engkau se­dang ber­muamalah dengan Allah, me­nga­pa eng­kau mempedulikan pandang­an manu­sia?!”

Riya’ sendiri memiliki beberapa ma­cam tingkatan:
Pertama, riya’ zhahir jaliy, riya’ yang nyata dan jelas. Seseorang berbuat amal dan menunggu pujian dari manusia. Riya’ semacam ini sudah merupakan se­suatu yang jelas. Nafsumu menertawa­kanmu ter­hadapnya dan engkau akan menge­ta­huinya itu dari nafsumu, tetapi bila eng­kau memeriksanya.

Kedua, riya’ mutawassith, riya’ per­tengahan. Misalnya, engkau shalat pada malam hari dan engkau katakan, “Aku shalat dua rakaat karena Allah.” Kemudi­an terlintas di dalam benakmu, “Kalau saja sekarang Fulanah membuka pintu ... atau kalau saja si Fulan membuka pintu dan meilihatku....” Di sini lahir ke­baha­giaan dalam hati. Hati menolehkan pandangannya kepada yang lain selain Allah SWT.

Tidak!! Hal itu tidak terjadi. Alham­dulillah, berarti engkau memiliki kewas­padaan lebih besar.

Ketiga, riya’ daqiq khafiy, riya’ ter­sembunyi. Misalnya, engkau shalat dua rakaat dan engkau tidak menunggu se­orang pun agar ia melihatmu di saat sha­lat. Akan tetapi tiba-tiba seseorang da­tang membuka pintu dan ia melihatmu se­dang melakukan shalat lalu engkau me­rasa senang dan gembira karenanya. Hal se­macam ini merupakan bagian dari me­malingkan amal perbuatan yang pa­ling dalam dan tersembunyi yang terjadi an­tara seseorang dengan Tuhannya SWT. Ke­mudian tidak ada batasan untuk ke­dalam­an riya’ sampai pohon cinta ke­pada ke­dudukan dari hatimu mengakar di hati manusia dan selamanya riya’ akan se­makin dalam dan semakin dalam. Dan se­tiap kali engkau meniti jalan menuju Allah SWT, setiap kali itu pula engkau ha­rus mengobati riya’, sesuatu demi se­suatu darinya.

Masalah yang lainnya adalah setiap kali naik kedudukanmu dalam berhu­bung­­an dengan Allah SWT, yang eng­kau sinari dan terangi hatimu dengan dzi­kir dan tampil kepada Allah SWT, se­tiap itu pula engkau akan mampu me­nyingkap sesuatu yang engkau tidak ketahui dari dirimu.

Seseorang datang, ia galau dan me­nangis. Aku pun bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Ia menjawab, “Aku menduga bahwa diriku sudah membersihkan hatiku dan tulus karena Allah SWT, tapi justru aku mengetahui bahwa diriku penuh dengan berbagai kotoran dan noda!!”

Aku katakan kepadanya, “Engkau su­dah naik meningkat dalam perjalanan­mu menuju Allah.... Kemarin, kotoran dan noda itu sudah ada dalam dirimu akan tetapi tidak terlihat olehmu karena bashi­rahmu (pandangan bathinmu) be­lum meningkat untuk mampu menge­tahuinya. Akan tetapi sekarang ketika bashirahmu sudah meningkat, engkau pun dapat mengetahui perkara-perkara yang tidak engkau ketahui dengan sem­purna.”

Pada saat seseorang memiliki kele­mahan dalam penglihatannya, tentu dia tidak dapat melihat beberapa noda yang ada di pakaiannya; tetapi bila ia meng­gunakan kacamata, niscaya ia akan mam­­pu melihat noda kecil sekalipun yang ada di pakaiannya. Kemudian bila ia meng­gunakan lensa pembesar, tentu dia akan dapat melihat noda yang lebih kecil lagi yang tidak dia ketahui.

Bila bashirah itu belum datang, se­seorang tidak akan merasa kotor. Orang yang datang tadi sekarang sudah menge­tahui adanya kotoran dalam diri­nya. Ko­toran itu sebenarnya telah ada. Dan se­telah ia naik meningkat dalam per­jalan­annya menuju Allah SWT, se­makin besar pula kekuatan bashirahnya, sehingga ia pun dapat melihat lebih banyak dan mengetahui lebih banyak pula.

Demikian pula halnya bila engkau menggunakan miskroskop, niscaya eng­kau akan dapat menemukan dan me­nge­­tahui kuman-kuman dan noda-noda yang ada di pakaianmu.

Demikianlah hati!!! Bila engkau naik meningkat dalam nur dan ma‘rifahmu ke­pada Allah SWT, niscaya engkau akan naik meningkat pula dalam kemampuan­mu untuk membersihkan hatimu untuk se­makin mensucikannya dan mening­kat­kannya kepada kedudukan yang lebih tinggi lagi.

Itulah sebabnya, dengan berke­si­nam­­bungannya perjalanan seseorang me­nuju Allah SWT, dia akan lebih ba­nyak lagi mengetahui dan menyingkap ha­kikat mak­na-makna riya’, yang sebe­lumnya ia tidak mengetahuinya dan tidak me­noleh­kan pandangannya terhadap­nya sebe­lum itu.

Lalu, apa yang hendaknya engkau la­kukan? Jawabannya adalah mengo­bati riya’ dari hatimu.

Para ulama hati menyebutkan ba­nyak cara untuk mengobati penyakit riya’, di an­taranya adalah dengan mem­benci lintasan riya’ dan menuduh diri sen­diri me­miliki riya’. Cara semacam ini, lakukan­lah terhadap semua macam pe­nyakit hati, pada semua aib. Jangan per­nah lari dari menguduh dirimu dengan aib dan cela. Karena bila engkau lari dari­nya, niscaya nafsumu akan menerta­wakanmu dan engkau tidak akan mam­pu mengetahui dan menyingkap aib dan cela yang ada dalam dirimu.

Malik bin Dinar RA, suatu ketika saat berjalan di antara jalan-jalan yang ber­ada di kota Bashrah, tiba-tiba seseorang me­manggilnya dari kejauhan, “Wahai orang riya’! Wahai orang riya’!”

Berkata kepada siapa orang itu? Ke­pada Malik bin Dinar, seorang imam be­sar yang arif billah, salah seorang pem­besar generasi salafush shalih, di antara para rijal (wali-wali besar) yang ada di dalam kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah?

Coba pikirkan, sendainya engkau ke­luar dari Masjid Jami‘ Al-Umawi, shalat Isya berjama’ah, shalat sunnah, dan eng­­kau menghadiri majelis untuk meng­ajar­kan ilmu, kemudian, di saat keluar, sese­orang berkata kepadamu, “Engkau pen­dusta besar, orang riya’, hadir ke ma­jelis ilmu hanya mencari popularitas de­ngan tampil di televisi, tidak tulus karena Allah!”, bagaimana kira-kira jawabanmu kepada orang ini.

Mungkin engkau akan menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari su’uzhan, wahai saudaraku....” Atau, “Jazakallah khairan, terima kasih atas nasihatnya, semoga Allah memperbaiki hati kita”, padahal hatimu marah ter­hadap orang yang berkata seperti itu ke­padamu.

Bila demikian halmu, ini masih ter­masuk sikap yang terbaik (dalam pan­dangan umum); atau, jika tidak, justru eng­kau memukulnya dan berkata ke­pada­nya, “Lihatlah kepada dirimu.”

Akan tetapi, coba lihat Malik bin Dinar RA. Beliau tersenyum dengan wajah yang berseri-seri dan berkata kepada­nya, “Siapa gerangan yang mem­beri­tahumu namaku yang sesungguhnya, padahal ba­nyak penduduk Bashrah yang tidak mengetahui? Bagaimana engkau bisa tahu? Benar, aku Al-Mura’i (orang riya’)....”

Mengapa orang itu tidak dapat mem­permainkan Malik bin Dinar? Mengapa orang bodoh itu, yang berkata kepada Imam Malik bin Dinar “Wahai orang riya’!”, tidak dapat menghinakannya, dan me­nga­pa ia tidak berhasil untuk menge­luar­kan sang imam dari keadaannya ber­sama Allah SWT?

Hal itu karena sesungguhnya Imam Malik bin Dinar RA pada asalnya telah menuduh dirinya memiliki aib dan cela. Beliau mengakui adanya kehinaan dan cela dalam hubungan dirinya dengan Allah SWT. Karenanya beliau menge­ta­hui berbagai hal pada hatinya, sebab be­liau selalu naik meningkat dalam hu­bung­annya dengan Allah SWT. Itulah se­bab­nya para ulama mengatakan, “Hasanatul abrar sayyiatul muqarrabin — Kebaikan di sisi orang-orang abrar (baik) adalah keburukan di sisi para muqarrabin (orang-orang yang memiliki derajat kedekatan yang tinggi dengan Allah SWT).” Seorang muqarrabin me­mandang sesuatu seba­gai keburukan sekalipun bagi orang-orang abrar itu dipandang sebagai ke­baikan.

Setelah pelajaran ini, apa yang se­yogianya kita lakukan. Tuduhlah dirimu dengan aib dan cela. Bila engkau menu­duh dirimu dan bersandar sepenuhnya ke­pada Allah SWT, niscaya Allah akan mem­berimu cahaya untuk dapat melihat kotor­an dan noda yang ada di dalam diri­mu.

Ringkasnya, perbuatan apa pun yang sedapat mungkin engkau lakukan untuk terhindar dari riya’, intinya adalah sibuk­anlah sepenuh hatimu dengan ke­agung­an Allah SWT, karena sesung­guh­nya ada­nya riya’ menunjukkan kosong­nya hati pelakunya dari keagungan Allah SWT. Bila saja hati telah terpenuhi de­ngan keagungan Allah SWT, niscaya engkau tidak akan merasa butuh selain Allah SWT melihat amal perbuatanmu.

Apakah pandangan-Nya tidak cukup bagimu? Apakah ilmu-Nya terhadap se­gala apa yang engkau perbuat tidak cu­kup bagimu?

Makna-makna ini akan dapat meng­hilangkan cinta kepada dunia dan cinta kepada kedudukan di sisi manusia dari hati dan memenuhinya dengan ke­agung­an Allah SWT.

Ada kalimat yang bila engkau banyak mengucapkannya niscaya akan mem­ban­tumu kepada ikhlas. Kalimat itu ada­lah kalimat ikhlas, yakni kalimat La Ilaaha illallaah (Tiada Tuhan selain Allah). Hen­daklah kalimat ini menjadi wiridanmu.

Katakanlah, “Laa (tiada) – di saat itu hadirkanlah hatimu untuk menafikan segala sesuatu selain-Nya dari hatimu – Ilaaha (Tuhan),” kemudian ucapkan, “Illallaah (selain Allah),” dengan merasa­kan dan menghadirkan makna-makna menetapkan nur Allah, karunia Allah, anu­gerah Allah, ridha Allah, ke dalam hatimu. Sehingga tiada lagi yang berada di dalam hatimu selain Allah SWT. Ini adalah mak­na penyucian terhadap hati dari makna me­nolehkan pandangan kepada makh­luk.
Selama engkau menginginkan manusia menghormatimu, mengelu-elukanmu, mengagungkanmu, dan memuliakan kedudukanmu, engkau sibuk dengan pandangan manusia terhadapmu, sesungguhnya engkau akan membayarnya dengan harga yang mahal...

Kata ar-riya’ berasal dari kata ar-ru’yah (pandangan), sedangkan as-sum‘ah berasal dari kata as-sima‘ (pendengaran). Dari mana da­tangnya kerinduan seseorang terhadap riya’? Yakni sibuknya seseorang untuk men­dapatkan pandangan manusia ke­padanya dan pendengaran orang lain tperihal pujian-pujian orang tentang diri­nya.

Engkau  mencari-cari pandangan orang terhadapmu dalam segala ihwal­mu. Dalam ihwal semacam ini, sesung­guhnya engkau kembali menuju titik ke­lemahan, yang baru saja kita bicarakan (pada edisi yang lalu).

Sudah kita katakan, seorang yang som­bong sesungguhnya telah memper­lemah dirinya untuk orang lain dan me­nyiapkan dirinya untuk titik kelemahan yang kedua, yakni penyakit hati yang ke­dua, maksiat hati yang sangat berba­haya, yakni riya’, yang disebut asy-syirkul ashghar (syirik kecil).

Syirik ini tidak mengeluarkan sese­orang dari agama Islam. Ia tetap menjadi seorang muslim. Akan tetapi mengapa penyakit ini disebut syirik kecil? Karena seorang yang riya’ telah memalingkan iba­dah dari yang semestinya karena Allah SWT, ia palingkan untuk manusia dan ia jadikan tujuan dari ibadahnya un­tuk mendapatkan pujian manusia terha­dapnya, penghormatan orang lain ke­padanya, kecenderungan mereka terha­dap dirinya, dan penilaian mereka terha­dap dirinya bahwa ia adalah “sesuatu”.

Ia menjadikan adanya sekutu bagi Allah dalam niat ibadahnya. Ia hamba Allah akan tetapi dalam ibadahnya meng­inginkan ridha Allah SWT dan ridha manusia. Ia menyekutukan antara men­cari ridha Allah SWT dan mencari ridha makhluk. Itulah sebabnya, penyekutuan semacam ini disebut asy-syirkul khafi (syirik tersembunyi).

Disebut syirik ashghar karena syirik ini tidak mengeluarkan seseorang dari agama. Adapun disebut syirik khafi ka­rena syirik ini memiliki beberapa tingkat­an yang akan dijelaskan pada akhir pel­ajaran kita kali ini.

Riya’ berkaitan dengan masalah arah pandanganmu kepada manusia. Selama engkau menginginkan manusia menghormatimu, mengelu-elukanmu, mengagungkanmu, dan memuliakan ke­dudukanmu, engkau sibuk dengan pan­dangan manusia terhadapmu, sesung­guhnya engkau akan membayarnya de­ngan harga yang mahal... harga-harga yang teramat mahal. Salah satunya ada­lah bahwa sesuatu yang paling mahal yang engkau miliki di dunia ini dan yang paling berharga yang akan engkau ba­yarkan untuk itu semua adalah ibadah­mu kepada Allah SWT. Ibadahmu, eng­kau palingkan untuk manusia.

Mengapa demikian? Seseorang yang riya’, bila ingin bersedekah, ia ingin orang-orang berkata tentangnya bahwa ia dermawan dan pemurah. Bila duduk di satu majelis dan menguraikan suatu pembahasan, ia menghendaki orang-orang memuji penyampaiannya dan kemampuannya dalam memberikan na­sihat dan pelajaran. Bila shalat atau me­lakukan suatu ibadah, ia menghendaki pujian orang terhadap kekhusyu’annya dan kadar kekhuyu’annya dalam dzikir kepada Allah SWT. Bila membaca Al-Qur’an, ia menunggu pujian orang-orang terhadap kemampuan dan keindahan bacaannya. Demikianlah halnya dalam ibadah, saat ia bertaqarrub kepada Allah SWT.

Sepakatkah kalian denganku bahwa harga yang harus dibayar untuk riya’ sa­ngatlah mahal, sehingga tidak semesti­nya dilakukan? Oleh sebab itu marilah kita berlepas diri dari penyakit cinta terhadap kedudukan di hati manusia.

Cintailah manusia, cintailah kebaikan bagi manusia, dan cintailah cinta manu­sia kepadamu karena Allah SWT. Akan tetapi janganlah engkau mencari ke­dudukan di sisi makhluk. Sesungguhnya kedua hal itu memiliki perbedaan yang sangat besar, sekalipun teramat tipis dan halus perbedaan antara keduanya.

“Benar, aku mencintai manusia ka­rena Allah dan aku pun cinta saudara-saudaraku yang mencintaiku karena Allah. Akan tetapi tidaklah sepatutnya aku mencari dan hidup dengan meno­lehkan pandanganku kepada keduduk­anku di dalam hati mereka. Mengamat-amati dan memperhatikan dengan sek­sama, apakah kedudukanku jatuh di mata mereka atau semakin tinggi dan se­makin tinggi lagi? Apakah keduduk­anku diperhitungkan di sisi mereka, atau­kah sama sekali tidak diperhitungkan?”

Cinta kedudukan di hati manusia, hal itulah yang menyebabkan lahirnya riya’, menyebabkan berpaling kepada selain Allah SWT – na’udzu billah min dzalik. Dan menolehnya hati kepada cinta ke­dudukan di tengah-tengah makhluk akan menyebabkan runtuhnya kedudukan di sisi Allah SWT.

Arah pandangan hatimu kepada makhluk untuk mencari kedudukan di sisi mereka di saat beribadah kepada Allah SWT akan merendahkan kedudukanmu di sisi-Nya.

Manakah sesungguhnya yang eng­kau inginkan: kedudukan di sisi makhluk atau kedudukan di sisi Allah SWT?

Engkau adalah murid menuju Allah, peniti jalan menuju akhirat. Ambillah kabar gembira yang akan membuatmu mudah untuk mendapatkan dua pilihan itu. Luruskanlah niatmu untuk mencari kedudukan di sisi Allah SWT, niscaya Dia akan memberikan kedudukan bagi­mu di sisi makhluk. Akan tetapi hal ini berbeda dengan permasalahan “Aku akan ikhlas karena Allah dan Allah akan menjadikan manusia mencintaiku”, seperti yang telah dijelaskan pada pelajar­an yang lalu.

Sunnatullah telah berlaku bahwa, di saat engkau benar dan tulus dalam mu‘amalahmu kepada Allah SWT dan tidak mencari dan menginginkan selain Allah SWT, semua urusanmu akan kem­bali kepada-Nya. Bila Allah menghen­daki, Dia akan menghimpunkan hati ma­nusia kepadamu; dan bila Dia tidak menghendaki, Dia pun akan mencerai­kan hati manusia darimu.

Sebagian shalihin dicintai oleh ma­nusia, mereka bersatu padu berhimpun men­dekatinya, memuliakannya, dan mengenali keutamaannya; tapi sebagian lagi dikucilkan oleh manusia, diperlaku­kan buruk oleh mereka, dan bahkan me­reka ramai-ramai menghardik dan me­lemparinya.

Baginda Nabi Muhammad SAW dilempari dengan batu dan bahkan se­bagian nabi dibunuh. Di masjid ini, Mas­jid Jami‘ Bani Umayyah, terdapat kepala mulia Nabi Yahya bin Zakariya’ AS. Beliau dipenggal karena kejahatan ke­lompok keji dari Bani Israil.

Akan tetapi, tentu bukan itu yang men­jadi maksud dan harapan. Namun tuluslah kepada Allah SWT, maka Dia akan memberikan kepadamu kebaikan dunia dan akhirat.

Apakah nilainya semua makhluk me­mujimu dan memandangmu dengan pan­dangan pengagungan, mengagung­kan­mu dan memuliakanmu, dan mereka memuji-mujimu dengan kebaikan... si Fulan datang dan si Fulan baru pergi... se­dangkan engkau tidak memiliki ke­dudukan apa pun di sisi Allah SWT.

Sungguh merupakan keadaan yang paling buruk, seseorang hidup di dalam­nya dan dia menduga bahwa dirinya da­lam mu‘amalah yang sebaik-baiknya ke­pada Allah SWT sedangkan dia tidur da­lam keadaan senang dan gembira de­ngan sebab pujian manusia kepada diri­nya dan perhatian mereka kepadanya, sementara dia tidak mengetahui apakah kelak akan menutup matanya dalam ke­adaan Allah ridha kepadanya atau tidak meridhainya.

Kesimpulannya, sumber dan asal mula riya’ adalah menolehkan pan­dang­an kepada kedudukan di hati makhluk.
Engkau berkata, “Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in (Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan),” sedangkan hatimu sibuk dengan Zaid, Umar, dan lain-lain. Sibuk untuk mendapatkan kedudukan di hati makhluk-Nya. Ibadahmu kepada Allah engkau peruntukkan kepada makhluk-Nya.

Apa yang mungkin makhluk berikan kepadamu? Dapatkah mereka memberikan sesuatu kepadamu? Dapat­kah mereka memberi manfaat kepada­mu atau madharat terhadap dirimu? Jika manusia seluruhnya bersujud kepadamu – sekalipun hal itu dilarang –  apakah dapat menambahkan sesuatu bagimu? Apakah mereka dapat menambahkan ketinggian derajatmu?

Dalam prasangkanya, ya!! Ia meng­anggap memiliki kedudukan di sisi ma­nu­sia. Tetapi itu semata prasangka. Akan tetapi, pada hakikatnya apakah mereka dapat menambahkan sesuatu bagimu?

Demi Allah, tidak!! Mereka sekali-kali tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula madharat terhadapmu. Eng­kau, apabila berdiri di hadapan Allah SWT di hari Kiamat nanti, akan berdiri se­orang diri tanpa seorang pun men­dam­pingimu.

Saat segala amal perbuatanmu di­hadapkan kepada Allah SWT, shalat yang engkau kerjakan, puasa yang eng­kau lakukan, tilawah yang engkau tunai­kan, sedekah yang engkau keluarkan, dan kebajikan yang engkau perbuat, saat itu akan tampak dengan jelas ka­darmu sesungguhnya di hadapan Yang Maha tiada Tersembunyi bagi-Nya se­gala yang tersembunyi, Yang Maha Mengetahui segala yang rahasia dan yang nyata.

Apabila Dia bertanya, “Wahai, ham­ba-Ku, apa yang engkau kerjakan?”, beranikah engkau berbohong kepada-Nya, “Aku menunaikan shalat karena Eng­kau, ya Allah,” padahal Dia Maha Mengetahui bahwa, di saat shalat, eng­kau sibuk dengan mencari pandangan Fulan, Fulan, dan Fulan terhadapmu, bah­wa, di saat melakukan haji dan um­rah, engkau sibuk memikirkan fasilitas dari si Fulan atau hubungan dengan si Fulan, bahwa, di saat mengerjakan ke­bajikan, engkau sibukkan pikiranmu de­ngan si Fulan dan si Fulan???

Dalam masalah ini ada satu hadits yang menakutkan diriku dan juga orang-orang sebelum kita. Dalam al-Mustad­rak, diriwayatkan, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang akan diputuskan perkaranya pada hari Kiamat adalah seorang yang mati sya­hid. Orang itu dibawa ke hadapan Allah dan Dia memberitahukan karunia-karu­nia-Nya dan dia pun memberitahukan kepada Allah nikmat-nikmat yang di­dapat­kannya selama di dunia. Allah SWT berfirman, “Apakah yang engkau lakukan dengan karunia itu?”

Ia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku gugur.”

Allah berfirman, “Engkau telah dusta. Engkau berperang agar dipuji oleh orang lain, ‘Ia pemberani.’ Dan sungguh itu sudah dikatakan orang.”

Nabi SAW bersabda, “Lalu malaikat diperintahkan untuk membawa orang ter­sebut dalam keadaan wajahnya ter­sungkur hingga dilemparkan ke dalam neraka.”

Kemudian orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan ia gemar mem­baca Al-Qur’an. Orang itu dibawa ke hadapan Allah dan Dia memberitahu­kan karunia-karunia-Nya dan dia pun memberitahukan kepada Allah nikmat-nikmat yang didapatkannya selama di dunia. Allah SWT berfirman, “Apakah yang engkau lakukan dengan karunia itu?”

Orang itu menjawab, “Aku belajar ilmu di jalan-Mu dan mengajarkannya dan aku pun gemar membaca Al-Qur’an karena-Mu.”

Allah SWT berfirman, “Engkau telah dusta. Engkau belajar ilmu agar dipuji orang, ‘Ia orang alim.’ Dan engkau gemar membaca Al-Qur’an agar dipuji orang, ‘Ia qari.’ Dan orang sudah memuji itu.”

Lalu malaikat diperintahkan untuk membawa orang tersebut dalam keada­an wajahnya tersungkur hingga dilem­par­kan ke dalam neraka.

Kemudian seorang yang Allah beri kelapangan dan dikaruniai berbagai ma­cam harta benda. Orang itu dibawa ke hadapan Allah dan Dia memberitahukan karunia-karunia-Nya dan dia pun mem­beritahukan kepada Allah nikmat-nikmat yang didapatkannya selama di dunia. Allah SWT berfirman, “Apakah yang eng­kau lakukan dengan karunia itu?”

Orang itu menjawab, “Tidaklah sesuatu pun yang aku ketahui Engkau menyukai bila aku berinfak padanya, maka aku infakkan hartaku padanya.”

Allah SWT berfirman, “Engkau telah berdusta. Engkau melakukan itu agar dipuji orang, ‘Ia seorang yang teramat dermawan.’ Dan orang sudah memuji itu.”

Lalu malaikat diperintahkan untuk mem­bawa orang tersebut dalam keada­an wajahnya tersungkur hingga dilem­par­kan ke dalam neraka.”

Orang pertama yang akan berdiri di hadapan Allah SAW untuk kemudian dilemparkan ke dalam neraka adalah seorang alim yang berilmu!!!

Perhatikanlah! Orang yang pertama kali masuk ke dalam neraka adalah orang yang berilmu, sebelum iblis, Fir‘aun, dan Haman. Seorang muslim yang berilmu dihadapkan di hadapan Allah SAW dan Dia bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau kerjakan, wahai hamba-Ku?”

Orang alim itu menjawab, “Wahai Tuhanku, aku menuntut ilmu karena-Mu.”

Allah berfirman, “Engkau berdusta. Engkau menuntut ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim dan engkau mengajar supaya disebut-sebut sebagai mu`allim (guru) dan engkau sudah disebut seperti itu.”

Allah pun berfirman kepada para malaikat, “Bawalah orang ini ke neraka.” Dan ia pun dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tersungkur.

Kemudian dihadapkan lagi ahli se­dekah dan Allah SWT bertanya kepada­nya, “Apa yang telah engkau kerjakan?”

Orang itu menjawab, “Wahai Tuhan­ku, aku banyak berinfak di jalan-Mu dan berbuat berbagai kebajikan karena-Mu.”

Allah SWT berfirman, “Engkau ber­dusta. Sesungguhnya engkau bersede­kah agar disebut-sebut sebagai orang yang dermawan, pemurah, dan ahli se­dekah, dan orang sudah menyebut-nyebut itu.”

Allah pun berfirman kepada para ma­laikat, “Bawalah orang ini ke neraka.”

Setelah itu dihadapkan lagi seorang yang berperang di tengah-tengah dua pasukan yang saling bertempur. Dia se­orang muslim dan gugur dalam jihad, lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau kerjakan?”

Orang itu menjawab, “Wahai Tuhan­ku, aku berperang karena-Mu dan aku gugur di jalan-Mu.”

Allah SWT berfirman, “Engkau ber­dusta. Sesungguhnya engkau berpe­rang agar disebut-sebut sebagai pembe­rani dan engkau rela mati di medan pe­rang agar disebut-sebut sebagai syahid dan orang-orang sudah menyebut-nye­but itu.”

Allah pun berfirman kepada para malaikat, “Bawalah orang ini ke neraka.” Dan ia pun dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tersungkur.

Hadits ini telah meluluhlantahkkan segenap pembaringan para shalihin ka­rena hadits ini menjelaskan bagaimana manusia akan menyaksikan hakikat per­buatan dirinya yang sesungguhnya di hadapan Allah SWT.

Allah SWT tidak sedikit pun menghi­langkan iman orang-orang yang beriman dan amal orang-orang yang beramal, akan tetapi Allah SAW tidak menerima bila didustakan. Dia tidak menerima bila hamba-hamba-Nya beribadah kepada-Nya dengan kebohongan dan penipuan. Engkau berkata, “Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`in (Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan),” sedangkan hatimu sibuk dengan orang-orang di sekitarmu. Sibuk untuk menda­patkan kedudukan di hati makhluk-Nya. Ibadahmu kepada Allah engkau perun­tukkan kepada makhluk-Nya.
Setelah menjelaskan panjang lebar ihwal takabur, selanjutnya mulai edisi ini Habib Ali Al-Jufri menjelaskan perihal riya’ dan berbagai hal yang berkaitan dengannya.

Segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang dengannya kami dapat mewujudkan ikhlas yang sesuangguhnya dalam penghambaan dan yang dengan­nya kami menjadi bagian dari orang-orang yang hatinya terpenuhi oleh ca­haya Allah SWT SWT, yang tidak ada lagi tersisa celah sedikit pun bagi syirik di saat-saat melakukan segala perbuatan.

Shalawat serta salam semoga se­nan­tiasa tercurahkan atas penghulu kami, Nabi Muhammad, pemimpin sege­nap ahli hakikat ikhlas, dan atas keluar­ganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang meniti di atas jalannya hing­ga hari Kiamat.

Mudah-mudahan, dari pelajaran ter­dahulu sampai pelajaran kali ini, engkau telah merenungkannya dengan sek­sama. Sudahkah engkau renungkan bagaimana menyelamatkan hatimu dari takabur? Sudahkah engkau renungkan hakikat asal penciptaanmu? Sudahkah engkau renungkan bahwa tempat kem­balimu hanyalah sebuah lubang yang di­timbuni tanah? Sudahkah engkau re­nung­kan bahwa di antara itu tidak ada sesuatu pun yang engkau miliki selain apa yang Allah berikan kepadamu?

Sudah pulakah kita memberikan per­hatian kepada perbuatan-perbuatan yang dapat membantu kita untuk mewu­judkan tawadhu dan kerendahan hati?

Berapa banyak orang yang engkau jumpai kemudian engkau terlebih dahulu mengucapkan salam kepadanya? Ada­kah rekan yang berseteru denganmu lalu engkau menjumpainya dan mengucap­kan salam terlebih dahulu kepadanya? Apakah engkau telah datang kepada se­seorang yang telah berbuat buruk ke­padamu lalu engkau luluh lantahkan naf­sumu untuk terlebih dahulu meminta per­sahabatan dengannya?

Ini semua adalah perbuatan-per­buat­an yang dapat membantu untuk mewu­judkan sikap rendah hati dan menghi­langkan takabur. Apakah engkau memi­liki keberanian yang lebih tinggi untuk me­lakukannya? Apakah engkau memi­liki kekuatan yang lebih besar sehingga engkau dapat memperbuatnya?

Apakah engkau memiliki semangat yang sama dengan sekalian murid yang meniti jalan menuju Allah SWT?

Pikirkan masjid yang ada di samping rumahmu. Pikirkan bahwa engkau dapat membersihkan kamar mandi masjid mes­kipun hanya sekali dalam seminggu.

Sulit? Sungguh ini adalah perjalanan menuju Allah SWT. Demi Allah, di da­lamnya terdapat pembersihan terhadap hatimu. Perkara yang dituntut sesung­guhnya bukanlah tempat yang engkau bersihkan, melainkan penyucian terha­dap dirimu.

Sulit? Cobalah yang lebih ringan di rumahmu. Ringankan pekerjaan pem­bantu yang ada di rumahmu bila engkau memiliki pembantu. Atau ringankan pe­kerjaan istrimu. Berdiri, bantu, dan to­longlahlah istrimu bersih-bersih rumah.

Masih sulit juga! Sungguh ada ma­salah besar dalam dirimu, bila sampai untuk melakukan bersih-bersih di salah satu ruangan di rumahmu saja, atau ka­mar mandi di rumahmu, atau perabot yang ada di dapur, masih terasa sukar dan berat bagimu.

Jangan sampai setan tertawa di saat menyaksikan engkau berkata, “Tidak, aku seorang suami... semua itu tidak pan­tas dilakukan seorang suami!

Hati-hati, jangan sampai engkau salah dan keliru.

“Aku adalah seorang Hamba”
Sungguh penghulu sekalian suami, Baginda Rasulullah SAW, mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau SAW menyapu halaman rumah, mengemas baju dan men­cucinya, menambal sendal, memi­kul tanah liat di atas pundaknya, dan gemar membantu pekerjaan istri-istri­nya. Ini adalah pelatihan dan pendidikan bagi jiwa.

Nabi SAW pernah bersabda tentang dirinya, “Sungguh aku adalah seorang ham­ba sahaya yang makan sebagai­mana seorang hamba sahaya makan, dan duduk sebagaimana seorang ham­ba sahaya duduk.”

Tahukah engkau apa yang menjadi latar belakang dari hadits Nabi SAW ini?

Suatu ketika, seorang wanita melihat Nabi SAW tengah duduk bersama-sama dengan beberapa hamba sahaya dan para dhu‘afa. Lalu wanita itu berkata, “Apa-apaan ini? Seorang nabi duduk se­perti duduknya seorang hamba sahaya, dan makan seperti makannya seorang budak.” Wanita ini bermaksud meng­hi­nakan kelakuan Nabi SAW seperti itu.

Maka Nabi SAW pun bersabda, “Eng­kau benar. Sungguh aku hanyalah seorang hamba sahaya. Aku makan sebagaimana seorang hamba sahaya makan, dan duduk sebagaimana se­orang budak duduk.” Makna sesung­guh­nya dari ungkapan beliau SAW, “Aku adalah hamba Allah SWT.”

Pada suatu hari seorang budak pe­rem­puan datang menemui Nabi SAW di saat beliau tengah sibuk dengan urusan umat. Urusan yang sangat pen­ting.

Budak itu memiliki hajat yang hendak ia adukan kepada Nabi SAW. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ya Ra­sulullah, ada hal yang ingin aku sam­pai­kan kepadamu.”

Nabi SAW berkata, “Silakan.”

“Tidak, ya Rasulullah, aku hanya ingin berbicara denganmu seorang diri.”

“Baiklah, silakan engkau tunjuk di an­tara jalan-jalan di Madinah ini, biar aku mendatangimu di sana.”

Budak perempuan itu menunjuk tem­pat yang diinginkannya, dan Nabi SAW pun segera menuju tempat yang diingin­kan oleh perempuan terse­but.

Nabi SAW menyimak dengan sek­sama apa yang diadukan oleh budak perempuan hingga terpenuhi semua yang diharapkannya, barulah setelah itu Beliau kembali ke tengah-tengah para sa­habat yang tengah menunggu.

Perhatikan, demikianlah Nabimu, Suri Teladanmu, Nabi Muhammad SAW.

Bukan terhadap Dzatnya
Suatu ketika datang seekor kucing ke kamar Nabi SAW. Kucing itu meman­dang ke arah wadah air di sisi Rasulullah.

Menyaksikan itu beliau tahu bahwa kucing tersebut haus dan beliau pun me­miringkan wadah itu agar si kucing dapat memimum airnya. Setelah kucing itu puas, Nabi SAW pun bergantian mimum dari wadah itu.

Ketika Sayyidah Aisyah RA menyak­sikan hal itu, Nabi SAW berkata kepada­nya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya ku­cing ini adalah dari hamba-hamba yang thawaf (berkeliling). Ia thawaf kepada kita, datang dan pergi, dan bukanlah ia termasuk binatang yang najis.”

Jijiklah terhadap sesuatu yang di­hu­kumi najis oleh syari’at. Tetapi hen­dak­lah kita jijik terhadap kenajisannya, bu­kan terhadap dzatnya. Bahkan sam­pai terhadap anjing sekalipun yang di­hukumi najis. Meskipun para ulama meng­hu­kumi anjing dengan najis mughallazhah (najis berat), tidak dibolehkan bagi kita untuk menghinakan anjing.

Bila engkau melihat anjing dengan pandangan kehinaan, siapakah yang sesungguhnya engkau hinakan? Rupa ciptaan anjingkah yang engkau hinakan, atau Penciptanya?

Demikianlah senantiasa keadaan seorang peniti jalan menuju Allah SWT. Masalah yang dihadapi senantiasa te­rasa sukar dan berat. Karenanya, lawan terus nafsumu. Ini adalah maqam muja­hadah (kesungguhan dan perjuangan melawan nafsu).

Ini merupakan lapangan penyucian hati. Yakni dengan melakukan semua pekerjaan itu, dari yang paling mudah meningkat kepada yang paling sukar dan berat. Setelah itu niscaya hatimu bersih tercuci. Dirimu telah keluar dari titik ke­lemahan yang ada dalam dirimu menuju kekuatan penyandaran kepada Allah SWT. Jangan me­nyerah di hadap­an kelemahan diri dalam masalah taka­bur, sombong, me­rasa lebih baik dari yang lainnya. Lawanlah, dan ­latihlah dia.

Perhatikan baik-baik! Dalam muja­hadahmu terhadap nafsumu dalam me­ngeluarkan kegelapan takabur sesung­guhnya terdapat penyucian lain bagi hati­mu dari titik kelemahan yang lainnya, selain takabur itu sendiri.

Orang yang takabur memandang bah­wa dirinya lebih baik dan lebih mulia dari orang lain. Dalam hidupnya ia selalu membanding-bandingkan dirinya de­ngan orang lain. “Aku lebih baik dari si Fulan....”

Diri yang Tergadaikan
Hidupnya menjadi sibuk. Sibuk de­ngan apa? Sibuk dengan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Dan kesibukannya dengan orang lain itu, meskipun bentuknya adalah takabur dan pandangan ketinggian terhadap diri sen­diri di atas orang lain, sesungguhnya itu hakikatnya adalah kelemahan dan ke­tundukan terhadap orang lain.

Tahukah engkau mengapa demiki­an? Karena sesunguhnya dirinya terga­daikan kepada orang lain. Bila mereka menghormati dirinya, memuliakannya, dan memberinya kedudukan yang di­inginkannya, ia merasa lapang dan se­nang karenanya. Jika ia masuk ke satu majelis, orang-orang berdiri menghor­matinya. Jika ia meminta sesuatu, se­gera orang memenuhi tuntutannya. Dan bila ia berbicara, orang lain pun dengan seksama mendengarkannya. Ia menjadi individu yang teramat butuh dan tergan­tung kepada manusia. Itulah sebabnya, bila ia masuk ke suatu tempat dan orang tidak menghormatinya dengan penghor­matan yang ia kehendaki, ia pun akan marah. Ia marah sebesar orang lain tidak menghormatinya.

“Mereka tidak menghormatiku! Aku tidak akan membiarkan hal itu.” Karena engkau merasa bahwa mereka telah menghinakanmu.

Bila keadaanmu demikian adanya, sesungguhnya engkau tengah membiar­kan orang lain merendahkan dan meng­hinakanmu.

Engkau tahu kenapa?
Karena engkau menjadikan nilai dan kemuliaanmu tergantung dan terikat pada sikap dan tingkah laku manusia. Engkau menghinakan dirimu sendiri. Bila saja engkau menjadikan kemuliaan dan kehormatanmu pada keadaan dan ke­teguhanmu kepada Allah SWT, bukan dengan perlakuan manusia terhadapmu, sungguh engkau telah memelihara diri­mu. Akan tetapi engkau justru rela de­ngan kesombonganmu, perasaan tinggi­mu, dan keinginanmu mencari kemulia­an dan kedudukan di antara manusia.

Engkau rela membiarkan dirimu ber­ada di tangan manusia. Bila mereka menghormati dan memuliakanmu, eng­kau bahagia karenanya. Tapi bila me­reka tidak menoleh kepadamu dan tidak memuliakanmu, engkau pun marah dan gusar. Sehingga keadaanmu menjadi keadaan seseorang yang teramat perlu dikasihani oleh orang lain. Siapa pun orangnya itu, konglomerat, raja, hakim,  menteri, ulama, reformis, akademisi, guru, siapa pun itu, yang menjadikan ni­lai­nya, kebahagiaannya, ridhanya, ke­tenteramannya, dan kesenangannya, ter­gantung pada apa yang diberikan dan dipersembahkan oleh manusia lain ke­padanya, ia telah menghinakan dirinya dengan keadaan seperti itu, keadaan yang perlu belas kasihan orang lain.

Perhatikanlah, di atas masalah yang telah kita bahas pada pelajaran yang lalu ini, yakni penyakit takabur, terdapat pula masalah yang kedua, yakni penyakit riya’ dan sum‘ah, yang akan kita bahas pada edisi berikutnya.
Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kembalikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf kepada mereka untuk dirinya jika Allah melihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat.

Pelajaran ini akan membahas langkah pertama yang harus dijalani seorang hamba dalam perjalanan­nya menuju Allah SWT setelah muncul­nya Al-Baits dan kerinduan yang kuat di dalam hati untuk datang kepada-Nya. Langkah pertama untuk menuju Allah adalah tash-hih at-taubah, memperbaiki taubat dan sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT.

Taubat sebagai kata diambil dari kata ar-ruju‘ dan al-awbah, yang berarti “kem­bali”. Taubat sendiri pada hakikatnya meliputi tiga makna, yang, apabila ke­tiganya terpenuhi dan tercakup, terwu­judlah taubat yang sesungguhnya. Tiga hal tersebut adalah ‘ilm, hal, fi‘l.

‘Ilm
‘Ilm, atau ilmu, yang dimaksud di sini adalah ilmu yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang hamba, yang ke­lak akan berdiri di hadapan Allah SWT pada hari Kiamat, yang hidupnya hanya sementara untuk kemudian menemui ke­matian, dan akan dimintai pertanggung­jawaban atas segala perbuatan yang te­lah dilakukannya dalam hidupnya yang teramat singkat itu.

Sang hamba mengetahui bahwa hi­dup yang teramat singkat ini akan ber­ujung pada satu masa ketika ia akan ber­diri seorang diri di hadapan Raja dari se­gala raja, Yang akan menanyainya se­orang diri dengan tanpa ada seorang pem­bela pun dan tidak pula seorang pe­rantara yang dapat membantunya untuk menjawab segala pertanyaan yang di­ajukan. Maharaja itu akan berkata ke­pa­danya, “Wahai hamba-Ku, ingatkah eng­kau di hari ini, di waktu ini... engkau me­nutup rapat semua pintu agar tidak terlihat oleh pandangan seorang pun dari makh­luk-Ku karena engkau malu bila mereka melihat perbuatanmu kala itu... sedang­kan engkau terang-terangan mem­per­tunjukkan kepada-Ku satu per­buatan yang tidak Aku ridhai. Di mana­kah eng­kau taruh pandangan-Ku saat itu? Ham­ba-Ku, mengapa engkau jadi­kan Aku pemandang yang paling remeh dalam penilaianmu? Hambaku, engkau malu terhadap hamba-hamba-Ku, tetapi sama sekali tidak merasa malu kepada-Ku?”

Di saat berada di hadapan-Nya, Dia akan berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menciptakanmu dari ketiadaan, Aku limpahi engkau dengan berbagai karunia, Aku muliakan engkau dengan ‘La ilaha illallah.’ Engkau tumbuh dengan karunia-karunia yang Aku berikan, ibu­mu menyusui dan mengasuhmu dengan karunia itu, pengetahuanmu pun ber­kembang dengan karunia itu, lalu eng­kau tumbuh besar dan menjadi perkasa dengan segala karunia yang telah Aku berikan dari berbagai kebaikan, namun kemudian engkau pergunakan untuk mendurhakai-Ku? Bagaimana engkau pergunakan nikmat-Ku? Apakah engkau menggunakannya untuk hal-hal yang Aku ridhai? Apakah engkau mencari kedekatan dengan-Ku selama hari-hari yang telah Aku berikan kepadamu?”

Saat-saat kelak kita dimintai pertang­gungjawaban itu tidak seorang mukmin pun kecuali ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa pasti akan dilaluinya.

Seorang hamba pun mengetahui bah­wa tidaklah setiap kata yang terucap dari lidahnya kecuali akan dicatat, tidak­lah setiap tatapan di saat memandang sesuatu kecuali akan dituliskan, dan ti­dak pula setiap diam, gerak, dan lengah kita kecuali akan dicatat untuk dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Di saat memperhatikan semua pen­jelasan itu, mungkin sebagian orang akan merasa sempit dadanya untuk da­pat memahami makna-makna mulaha­qah (pencarian jati diri), mutaba‘ah (me­neladani), hisab (penghitungan amal), ataupun kitab ‘alaih (pencatatan amal perbuatan).

Maka, coba kita perhatikan dari segi yang lain, yakni memahami makna dari makna-makna kemurahan yang Allah SWT karuniakan kepada kita, kemuliaan yang diberikan-Nya kepada kita, dan penghormatan yang diberikan Allah kepada kita.

Coba perhatikan seseorang yang memiliki kedudukan atau popularitas yang tinggi di tengah-tengah masyara­kat. Orang-orang berkumpul di sekitar­nya. Wartawan yang satu menulis setiap kata yang diucapkannya, sedang yang lainnya mengambil gambar dari setiap gerak-geriknya. Namun, puncak dari se­mua perhatian yang diberikan itu tidaklah lebih dari satu atau dua jam saja, setelah itu mereka kembali ke rumahnya ma­sing-masing.

Ketahuilah, seorang hamba memiliki kedudukan yang penting di sisi Allah. Karena penting dan tingginya keduduk­an seorang hamba di sisi Allah, Dia, bah­kan, mewakilkan dua malaikat mulia, yang tercipta dari cahaya yang  tidak per­nah durhaka kepada-Nya, sebagai pen­dampingnya setiap saat.

Dua malaikat yang Allah wakilkan ini mencatat setiap ucapan sang hamba dari semenjak ia baligh hingga akhir ha­yatnya. Dalam gurau, sungguh-sungguh, marah, ridha, sedih, atau gembira, “Tiada suatu ucapan pun yang diucap­kannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Raqib dan ‘Atid (yang selalu hadir meng­awasi).” — QS Qaf (50): 18.

Seorang hamba adalah pemilik ke­dudukan di sisi Allah. Seseorang yang telah mengetahui bahwa semua per­buat­annya akan dicatat, dihitung, ke­mudian akan dilaporkan dan dibuka di hadapan Allah SWT. Setelah itu ditentu­kan tempat kembalinya, apakah menuju negeri keridhaan atau negeri kemurka­an, menuju surga atau dijerumuskan ke jurang neraka.

Waktunya di dunia akan berakhir di saat ruh sampai di ujung kerongkongan. Tidak ada jaminan tentang kapan sam­painya ruh ke ujung kerongkongan. Ti­dak dapat direncanakan dan tidak pula dapat disiasati agar ia datang pada wak­tu yang tepat, dan tidak diketahui kapan malaikat maut datang menjemput. Se­mua­nya datang dengan tiba-tiba dan se­kejap mata. Tidak dibedakan antara anak muda ataupun orang tua, dan tidak pula dibedakan atara yang sakit ataupun yang sehat. Jika malaikat maut datang menjemput, pada saat itulah diberitahu­kan bahwa waktunya telah berakhir untuk selamanya.

Seseorang yang mengetahui semua kemestian itu, akankah di hatinya tidak ada sesuatu yang terlahir dan muncul dari pengetahuannya itu? Yakni keada­an menyesal, merasa malu, hina, dan rendah di hadapan Allah SWT. “Kemarin aku mendurhakai Allah padahal Allah melihatku. Aku akan berdiri di hadapan-Nya dan Allah akan menanyaiku semua itu.”

Salah seorang shalihin dari negeri Habasyah datang kepada seorang waliyullah dari kalangan salaf. Orang itu bertanya, “Wahai Syaikh, apakah Allah akan mengampuniku atas dosa yang telah aku perbuat?”

“Benar, Allah akan mengampunimu bila engkau bertaubat dengan sungguh-sungguh,” jawab sang waliyullah.

Orang itu pun bersyukur dan memuji Allah, dan tampak dari raut wajahnya kegembiraan yang luar biasa. Namun, setelah beberapa langkah meninggalkan sang waliyullah, orang itu kembali lagi de­ngan raut muka yang tidak lagi me­nunjukkan kegembiraan.

Wali tadi bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”

Orang itu menjawab, “Apakah Allah melihatku di saat aku mendurhakai-Nya?”

Maka dijawab, “Ya, Allah melihatmu.”

Tiba-tiba orang itu berteriak histeris dan langsung tersungkur ke tanah dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Tahukah apa yang terjadi dengan orang ini?

Awal mula, pikirannya sibuk dengan urusan, “Apakah aku akan masuk ke da­lam surga atau neraka?” Setelah kekha­watirannya terhadap urusan surga dan neraka hilang dengan jawaban sang wali tadi bahwa Allah akan mengampuninya atas segala dosanya, muncullah di da­lam hatinya makna yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih besar, dan lebih halus lagi dari apa yang menyibukkan pikir­an­nya selama itu tentang surga dan ne­raka. Yakni makna hubungan seorang ham­ba dengan Allah, makna bahwa Allah melihat dirinya melakukan kedur­hakaan ini dan itu, makna bahwa Allah me­nutupi semua keburukannya dari pan­dangan makhluk-Nya, padahal Allah Mahakuasa untuk mempertunjukkan se­mua keburukan itu kepada mereka, makna bahwa Allah tak pernah berhenti memberikan berbagai karunia, nikmat, dan limpahan rizqi padahal ia tak henti pula mendurhakai-Nya.

Semua perasaan itu melahirkan pe­nye­salan terhadap semua keteledoran, ke­durhakaan, dan keberanian yang se­lama ini ia lakukan terhadap Allah SWT. Perasaan semacam ini yang hadir di dalam hati seorang hamba disebut pe­nyesalan, salah satu unsur yang sangat penting dalam taubat.

Hal
Hal dalam konteks ini adalah penye­salan atas segala perbuatan buruk yang telah lalu. Terkadang sebagian salaf me­megang jenggotnya sambil berkata, “Alangkah buruknya perbuatanku meski­pun seandainya akan dimaafkan!”

Penyesalan semacam ini akan me­nimbulkan keteguhan yang kuat dalam diri seseorang untuk berkata dalam hati­nya, “Aku akan berhenti dari berbuat dosa... aku tidak akan pernah melaku­kannya lagi untuk selama-lamanya... aku tidak akan pernah lagi mendurhakai Allah....”

Fi‘l
Fi’il, atau perbuatan, dalam konteks ini adalah melepaskan diri dari maksiat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Bila telah lahir penyesalan semacam ini, yang dilandasi dengan ilmu, penye­salan dan ilmu itu akan membuahkan ke­teguhan dalam hati untuk meninggalkan maksiat, dan tidak mengulanginya lagi, sehingga darinya terwujudlah hakikat sesuatu yang disebut taubat.

Adapun apabila kesalahan atau mak­siat itu berkaitan dengan hak-hak ma­nusia, misalnya mengambil harta si Fulan atau menghina dan mencacinya, ada per­kara keempat yang harus dilaku­kan, yak­ni mengembalikan hak-hak itu kepada pe­miliknya. Jika seseorang telah memakan harta orang lain, ia harus mengembalikan harta itu kepada pe­milik­nya.

Namun bukan hanya itu, karena apa yang telah dikembalikan itu belum ter­hitung sebagai taubat sebelum ia pun meminta maaf kepada mereka.

Lalu bagaimana seandainya mereka tidak memaafkannya?

Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kem­balikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf ke­pada mereka untuk dirinya jika Allah me­lihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat. Dengan demi­kian berarti ia telah menunaikan kewajib­annya dalam taubat. Allah akan memu­lia­kannya dengan memberinya anu­ge­rah berupa kerelaan dari orang-orang yang didzalimi haknya. Dan bila ia tidak kuasa untuk mengembalikan hak itu ke­pada mereka, Allah akan memuliakan­nya dengan memberinya sesuatu yang setimpal dengan kerelaan orang-orang yang terzhalimi itu. Karena hak-hak orang lain atas dirinya tetap tidak gugur sebagai tanggunggannya.

Lembaran-lembaran Dosa
Lembaran-lembaran dosa manusia dapat digolongkan menjadi tiga bagian.

Pertama, lembaran dosa yang pe­laku­nya dapat diampuni. Yakni semua kedurhakaan dan dosa yang ada antara sang hamba dan Tuhannya bila pada diri hamba terdapat penyesalan yang benar dan hakiki yang dihasilkan dari ilmu. Sehingga, penyesalan itu melahirkan keteguhan dan tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa-dosa itu semua. Itulah taubat nasuha. Maka Allah pun akan mengampuninya atas dosa-dosa­nya seluruhnya.

Kedua, lembaran dosa yang pelaku­nya tidak akan diampuni. Yakni dosa syi­rik akbar, syirik besar. Syirik akbar ada­lah meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT. Namun, dosa ini tidak terjadi pada umat Rasulullah SAW. Tidak akan ada syirik besar pada umat Nabi SAW, se­bagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesung­guhnya aku, demi Allah, tidaklah takut ka­lian akan berbuat syirik (akbar) sete­lahku, akan tetapi yang aku takutkan ada­lah akan dibukakannya dunia atas kalian.”

Ketiga, lembaran dosa yang tidak tergugurkan. Yakni dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak-hak manusia, hak-hak yang berkaitan dengan makhluk. Inilah yang semestinya membuat sese­orang yang sedang berjalan menuju Allah besungguh-sungguh dalam me­nunai­kan hak-hak itu.

Dosa Besar dan Kecil
Para ulama mengatakan, dosa besar itu ada empat macam. Sebagian saha­bat mengatakan, dosa besar ada tujuh macam, dan sebagian yang lain menga­ta­kan ada sebelas macam. Ibnu Abbas RA berkata, “Semoga Allah merahmati Ibnu Umar, yang membagi dosa kepada tujuh macam, karena yang tujuh itu lebih dekat kepada tujuh puluh.”

Adapun yang disepakati oleh jumhur ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bahwa semua perkara yang dikenai had (hukuman tertentu) termasuk dosa be­sar, semua yang dinashkan oleh Al-Qur’an atas keharamannya itu pun ter­masuk dosa besar, dan semua perbuat­an keji termasuk dosa besar.

Perhatikan juga terhadap makna lain, yaitu keadaan hati terhadap maksiat sesudah melakukan maksiat. Ulama berkata, “Terus-menerus dalam maksiat ter­golong dosa besar.” Dan meremeh­kan maksiat adalah termasuk dosa besar, meskipun maksiat itu kecil.

Itulah sebabnya, sebagian shalihin memohon ampun kepada Allah terhadap hal-hal mubah sekalipun. Mereka selalu memandang bahwa hal (interaksi)-nya dengan Allah adalah senantiasa menun­tut ketinggian dan kedekatan dengan-Nya dalam segala hal. Karenanya bila melakukan sesuatu yang mubah tidak berniat untuk mencari kedekatan dengan Allah, mereka pun memohon ampun ke­pada-Nya.

Bukan hanya itu, sebagian mereka pun bertaubat kepada Allah pada bebe­rapa perbuatan taat. Mereka bertaubat dari makna yang hadir di hati pada saat berbuat taat, yakni tidak merasa dan menyadari adanya kemurahan Allah pada saat berdiri mengerjakan suatu ketaatan.

Lebih tinggi lagi, Rabiatul Adawiyah pernah berkata, “Istighfar kita butuh kepada istighfar.” Mungkin kita memang sudah beristighfar, tapi istighfar kita belum sungguh-sungguh karena Allah.

Itulah taubat.

Mulailah taubat sejak saat ini juga, dan tidak ada ujung dari taubat. Setiap kali seseorang meningkat derajat kede­katannya kepada Allah secara maknawi, dituntut taubat dari makna-makna se­belumnya.

Seorang shalihin berkata kepada Rabiatul Adawiyah, “Doakanlah aku su­paya aku bertaubat kepada Allah agar Allah memberiku taubat.”

Rabiah menjawab, “Melainkan aku akan mendoakanmu semoga Allah mem­berimu taubat agar engkau bertaubat.”

Shalatlah dua rakaat shalat sunnah Taubat dan jadikan sebagai wiridannya istighfar Astaghfirullaha wa atubu ilayh (100 kali) atau Rabbighfirli warhamni wa tub ‘alayya (100 kali). Apabila ini se­nantiasa dilakukan pada tiap-tiap malam, buahnya akan memperoleh satu tingkat­an yang dikatakan ulama sebagai ting­katan mahbubiyah (dicintai – oleh Allah). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat.” — QS Al-Baqarah (2): 222.

Wassalam
Yang salah adalah bahwa engkau tidak merasa cukup terhadap pandangan Allah SWT. Bila saja hatimu telah terpenuhi dengan Allah dan merasa cukup dengan pandangan dan ilmu Allah terhadap amal perbuatanmu, niscaya engkau tidak akan pernah mencari kemuliaan dan kedudukan dalam pandangan manusia.

Beberapa waktu lalu telah dijelaskan, setan masuk ke dalam hati manusia melalui tujuh jalan utama. Dan dua di antaranya telah disebutkan, yakni ash-sharf ‘an al-‘amal (berpaling dari berbuat kebajikan) dan at-taswif (menunda-nunda untuk berbuat kebajikan).

Setelah setan gagal dari jalan masuk yang kedua, yakni penunda-nundaanmu untuk berbuat kebajikan (at-taswif), dan dia pergi meninggalkanmu untuk bebe­rapa saat, dia pun akan kembali masuk ke dalam hatimu melalui pintu yang ketiga, yakni riya’.

Setan akan berkata kepadamu, “Per­buatlah kebajikan ini dan itu, tetapi biar­kan manusia melihatmu. Perlihatkan ke­bajikanmu kepada manusia!”

“Mengapa aku harus memperlihat­kan kepada manusia. Ini riya’!”

“Tidak! Bukan riya’. Bila nanti manu­sia melihat dan mengetahui kebajikan-kebajikanmu, mereka akan lebih memu­liakan dan menghormatimu. Setelah itu mereka akan mengikutimu dalam ke­bajikan. Biarkan mereka melihat dan me­ngetahui amal-amal kebajikanmu!”

Benar, sungguh baik apabila dia da­pat menjadi teladan bagi orang lain dalam kebaikan. Dan sungguh telah ba­nyak orang yang menjadi teladan dalam kebaikan dan benar dalam niat dan amalnya. Namun, setan teramat pandai memperdayamu dalam perkara ini. Dia akan berbisik kepadamu, “Katakan kepada manusia, ‘Aku telah berbuat ini dan itu...’.”

Bukan Ahlinya
Dikisahkan, Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya‘rani, salah seorang ulama ter­kemuka Al-Azhar, didatangi oleh se­orang pedagang. Pedagang itu berkata kepada Syaikh Abdul Wahhab, “Wahai Tuanku, aku mendengar engkau menje­laskan ihwal sedekah sirr (sedekah yang tidak diketahui oleh orang lain) dan be­sarnya pahala bagi orang yang menger­jakan sedekah sirr. Dan aku sudah ber­niat untuk mengerjakan sedekah sirr. Tolong tunjukkan kepadaku para fakir miskin yang berhak untuk mendapatkan sedekah sirr. Aku akan pergi  ke rumah-rumah mereka malam ini.”

Syaikh Abdul Wahhab berkata, “Wa­hai saudaraku, sungguh aku tidak me­lihatmu sebagai ahli sedekah sirr.”

“Tuanku. Silakan uji diriku!”

“Apakah benar engkau sanggup?”

“Ya, aku sanggup...”

“Baiklah.... Di Jalan Fulan, Gang Fulan, nomor ini, terdapat rumah yang dihuni oleh keluarga baik-baik. Akan tetapi zaman telah menguji mereka. Mereka teramat membutuhkan bantuan namun tak pernah mereka menunjuk­kan­nya kepada orang lain....”

“Baiklah, terima kasih, Tuanku... jazakumullah khairan.”

Malam harinya pedagang itu pun pergi menuju rumah tersebut dengan membawa kantung  yang berisi emas.

Setibanya di tempat yang dituju, pintu pun diketuknya dan kantung emas yang telah dibawanya diletakkan di bawah pintu.

Sebelum seorang pun dari dalam rumah mengetahui, sang pedagang pun segera pergi meninggalkan rumah si fa­kir, agar tidak diketahui oleh pemiliknya.

Hari berikutnya, pedagang tadi da­tang ke majelis Syaikh Abdul Wahhab. Be­berapa saat ia hanya duduk terdiam. Namun dari mimik wajahnya sudah mu­lai terlihat gelisah untuk berkata-kata. Dengan serta merta ia pun berkata, “Wahai Tuanku...”

“Ya...”

“Aku ingin memberitakan kabar gem­bira kepadamu. Alhamdulillah, sedekah sirr sudah aku lakukan beberapa hari ini. Dan kelak orang-orang pun akan ikut mem­berikan perhatian yang besar ter­hadap sedekah sirr semacam ini kepada umat yang membutuhkan.”

Syaikh Abdul Wahhab hanya terse­nyum kecil dan tidak memberikan ko­mentar apa pun. Beliau kembali mene­ruskan pembicaraan pada topik lain.

Si pedagang kembali berkata, “Tuan­ku, sungguh telah sampai kepadaku be­rita betapa besarnya manfaat sedekah sirr di alamat Fulan dan Fulan itu.”

Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya‘rani pun menatap ke arah pedagang itu.

Sang pedagang pun berkata kem­bali, “Tuanku, sungguh aku mengutara­kan ini hanya agar bisa ditiru oleh yang lain, karena aku melihat kebanyakan dari hadirin yang duduk di majelis ini adalah para pedagang. Aku berharap agar me­reka dapat melakukan sedekah sirr se­macam itu malam-malam berikutnya.”

Syaikh Abdul Wahhab pun berkata, “Sungguh aku sudah katakan kepadamu bahwa engkau belum siap untuk melaku­kan sedekah sirr!”

Jalan masuk yang ketiga adalah riya’. Setan datang kepadamu dan ber­kata, “Sekarang, bergegaslah menuju kebaik­an. Apabila orang lain akan pergi menuju masjid, engkau harus terlebih da­hulu da­tang ke dalam masjid sebelum mereka da­tang, agar mereka melihat­mu.”

Inilah sesungguhnya riya’. Apakah riya’ itu? Riya’ adalah perasaan yang meng­hendaki agar orang lain melihat amalmu, ada upaya dan kepentingan agar orang lain melihat perbuatanmu,  supaya mereka memujimu atas perbuat­an itu sehingga kedudukanmu semakin mulia dan tinggi di hadapan mereka.

Apa yang salah dari hal itu?

Yang salah adalah bahwa engkau tidak merasa cukup terhadap pandang­an Allah SWT. Bila saja hatimu telah terpenuhi dengan Allah dan merasa cu­kup dengan pandangan dan ilmu Allah terhadap amal perbuatanmu, niscaya engkau tidak akan pernah mencari ke­muliaan dan kedudukan dalam pandang­an manusia.

Bila setan datang kepadamu dengan bisikan itu dan engkau katakan “A`udzu billahiminasyyaithanirrajim”, setan pun akan pergi darimu. Akan tetapi setan te­lah meninggalkan dua masalah, yakni pada nafsumu dan pengaruh yang telah ditiupkannya ke dalam nafsumu. Sehing­ga keagungan Allah belum sampai ke­pada batas di mana cukuplah bagimu bahwa Allah SWT Maha Mengetahui segala gerak-gerik dirimu.

Penyakit ini membutuhkan pengo­bat­an yang serius dan usaha yang sung­guh-sungguh. Dan insya Allah pemba­hasan tentang ini akan dibahas lebih men­detail pada pelajaran tentang perin­cian-perincian riya’ pada pelajaran-pela­jaran mendatang.

Menghadiahkan Bangkai
Keempat, ketergesa-gesaan dalam ketaatan. Setan akan berkata kepada­mu, “Ya Allah, cepatlah... selesaikan se­karang juga! Shalatlah dua rakaat... se­cepat mungkin. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui siapa yang memuji-Nya.... Ingat, sekian rakaat saja dan cepatlah...!!!”

Setan berusaha menganjurkanmu untuk tergesa-gesa dalam melakukan ketaatan sampai engkau kehilangan makna hudhur (hati yang hadir meng­ingat Allah SWT) bersama Allah SWT. Setan berusaha sekuat tenaga untuk men­jadikan amalmu cacat sebisa mung­kin selama engkau masih berbuat ke­bajik­an. Ia berusaha untuk membuatmu berpaling dari kebajikan. Gagal dari itu setan berusaha agar membuatmu me­nunda-nundanya hingga esok dan sete­rusnya. Bila gagal, ia akan berusaha agar engkau riya’ dalam berbuat kebajik­an. Dan bila masih gagal juga, setan akan berusaha sekuat tenaga agar eng­kau tergesa-gesa dalam melakukan ke­taatan kepada Allah SWT.

Apa yang sesungguhnya setan laku­kan? Setan berusaha sebisa mungkin agar ketaatanmu cacat dan tidak bernilai di hadapan Allah SWT. Setan membisik­kan kepadamu agar tergesa-gesa dalam melakukan kebajikan.

“Cepatlah!! Selesaikan sesegera mungkin!!”

Berapa banyak engkau membaca Al-Qur’an dalam satu majelis? Pada bulan Ramadhan, misalkan, banyak engkau temukan orang-orang yang membaca Al-Qur’an hanya memperhatikan jumlah halaman yang dibacanya. Satu maqra’ (batasan dalam tata cara membaca Al-Qur’an yang biasaya ditandai dengan huruf ‘Ain), tiga maqra’, satu juz... dan seterusnya hingga sampai ke halaman tertentu, tanpa adanya penghayatan ter­hadap apa yang dibaca. Tanpa hadirnya hati di saat membaca ayat demi ayat dari Al-Qur’an.

Inilah yang dimaksudkan dengan tergesa-gesa.

Bila engkau memohon perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan A‘udzu billahiminasyyaithanirrajim, setan pun akan pergi darimu.

Akan tetapi bagaimana mengobati penyakit ini? Katakan, “Wahai nafsu, sung­guh Allah Mahakaya dari membu­tuhkan ketaatan ini, akan tetapi sungguh aku teramat butuh kepada ridha-Nya kepadaku.”

Sesungguhnya hadirnya hati ber­sama Allah adalah ruhnya ibadah. Orang yang shalat tanpa hadirnya hati, orang yang mengerjakan ketaatan dengan ter­gesa-gesa tanpa hadirnya hati mengi­ngat Allah SWT, adalah seumpama se­orang hamba menghadiahkan hewan tunggangan kepada sang raja seekor kuda yang teramat elok dan indah tetapi sudah menjadi bangkai. Apakah guna­nya hadiah semacam itu? Karena itulah, janganlah engkau haturkan kepada Allah SWT amal-amal ketaatan yang tidak disertai dengan hadirnya hati kepada Allah SWT.
Apakah engkau mencari ikhlas? Untuk siapa ikhlasmu? Untuk Allah? 

Lalu bagaimana mungkin keikhlasan, yang merupakan nilai dari segala perbuatan dan amal yang ditujukan kepada Allah,  engkau palingkan untuk mendapatkan ridha dari manusia?

Beberapa waktu lalu, telah  dijelaskan, setan masuk ke dalam hati manusia melalui tujuh jalan utama. Pembi­ca­raan kita saat itu sampai pada jalan ke­empat, yakni ketergesa-gesaan dalam ketaatan, taswif, yang kemudian juga te­lah dibahas penjelasannya. Nah, beri­kutnya jalan kelima, yaitu ujub.

Bila ketergesa-gesaan tak membuat­mu menoleh dan melakukannya, setan akan masuk kepadamu melalui pintu yang kelima, yakni ujub.

Setan pun berkata kepadamu, “Siapa­kah orang sepertimu saat ini! Lihatlah di akhir zaman, bagaimana orang-orang shalat?”

Setan menanamkan rasa ujub di da­lam hatimu sehingga engkau senantiasa menjadikan dan memposisikan dirimu sebagai guru yang selalu ingin mengajari orang lain dalam setiap kebajikan yang mereka lakukan.

Melihat seseorang shalat, engkau ber­kata, “Wahai saudaraku, shalat ma­cam apa ini? Bangunlah, dan shalatlah seperti orang-orang shalat.”

Melihat seseorang bersedekah, eng­kau berkata, “Wahai saudaraku, berse­de­kahlah dengan sesuatu yang berhar­ga. Merasalah malu terhadap dirimu...!”

Ia menjadi pribadi yang ujub terha­dap dirinya sendiri, dan ujub termasuk perkara yang merendahkan akhlaq. Mengapa? Karena dalam ujub itu ter­dapat kezhaliman, yang para ulama menyebutnya zhulmatul minnah ‘alallah (kezhaliman pemberian terhadap Allah).

Pada majelis yang lalu sudah dibi­carakan bahwa amal shalih yang engkau per­buat asal mulanya adalah sebuah lin­tasan. Dari manakah lintasan itu ber­asal? Dari ilham dan dari bisikan ma­laikat, yang semuanya tidak lain adalah anugerah dari Allah SWT dalam setiap keadaan. Lalu bagaimana mungkin eng­kau memberikan kepada Allah sesuatu yang Allah memberikannya kepadamu?

Bila kemudian engkau memohon per­lindungan kepada Allah, setan pun pergi dan lari darimu. Dan untuk meng­atasinya, engkau katakan kepada diri­mu, “Wahai nafsu, malulah engkau ke­pada Allah. Janganlah engkau melihat kedudukan sedikit pun pada amal yang engkau kerjakan.”

Keenam, khawathir fil ‘aqidah (lintas­an-lintasan dalam masalah aqidah).

Setan datang kepadamu dari jalan masuk yang teramat dalam, yaitu mem­permainkanmu dalam masalah aqidah. Ia berkata kepadamu, “Janganlah eng­kau berletih-letih dengan bersusah payah melakukan amal shalih. Engkau haramkan dirimu dari berbagai hal yang semestinya engkau bersenang-senang dengannya. Engkau payahkan dirimu sen­diri padahal engkau tidak tahu ba­gaimana akhir hidupmu. Kita semua tiada mengetahuinya. Wahai saudaraku, bila engkau termasuk orang yang baha­gia di sisi Allah, sungguh sama saja eng­kau bersungguh-sungguh beramala shalih saat ini atau tidak melakukannya, karena pasti Allah akan mengampunimu sebelum kematianmu. Namun, bila eng­kau tergolong orang yang celaka, sung­guh meskipun engkau berupaya sekuat tenaga dan melaksanakannya dengan semaksimal mungkin, itu tidak akan memberimu manfaat apa pun. Lihatlah Iblis, yang sujud sepenuh jengkal tanah di bumi namun tak memberikan manfaat apa pun.”

Ini adalah sesuatu yang sangat ber­bahaya dan teramat hina. Semoga Allah memelihara kita semua dan menjaga kita dari kehinaannya dan terjerumus ke da­lamnya.

Jawaban apa yang harus engkau berikan terhadap bisikan ini?

“A`udzu billahi minasy-syaithanir­rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan, yang terkutuk).”

Setan pun pergi dan lari darimu.

Adapun untuk mengatasi pengaruh bisikan itu di dalam hati, katakanlah, “Wahai hati, Allah telah menciptakanmu dan memberimu tugas untuk melakukan amal kebajikan dan Dia tidak membe­banimu dengan hasil dan akhir dari ketentuanmu.”

Nabi SAW bersabda, “Berbuatlah, karena setiap sesuatu akan dimudah­kan.”

Allah telah menciptakanmu dan me­merintahkanmu untuk beramal, lalu ba­gaimana akhirnya nanti? Ini adalah milik Allah SWT.

Berbuatlah kebajikan. Percayalah dan bersandarlah kepada-Nya. Sungguh mustahil seseorang yang bersandar kepada-Nya akan mendapati kegagalan.

Ketujuh, ad-daqa-iq (tipu daya pada saat-saat tertentu). Bila gagal melalu pintu khawathir fil ‘aqidah, setan akan kembali datang kepadamu dengan se­suatu yang para ulama menyebutnya ad-daqa-iq.

Apa makna ad-daqa-iq?

Setiap pembahasan dalam bab ini, dari yang pertama hingga ketujuh, ada­lah pembahasan yang jelas. Setelah itu setan akan mulai datang kepadamu de­ngan “saat-saat tertentu” dari setiap jalan masuk itu.

Riya’, misalnya. Di sana terdapat riya’ yang jelas, yang nyata.

Seperti apa misalnya?

Seseorang shalat di masjid. Lalu ia memperhatikan bahwa orang-orang me­lihatnya. Ia pun memperindah shalatnya dan menampakkan kekhusyu’an di hadapan mereka.

Ia berusaha seindah mungkin dalam setiap gerakan shalatnya. Lalu sese­orang merasa kagum terhadapnya dan memperhatikannya dengan seksama. Semakin orang itu memandanginya, se­makin pula ia menampakkan kekhu­syu’annya lebih dan lebih lagi.

Setelah dua rakaat dan salam, da­tanglah orang tersebut menghampirinya dengan penuh adab dan berkata ke­pada­nya, “Wahai saudaraku, doakanlah aku ini. Aku melihatmu sebagai seorang yang shalih. Shalat sunnahmu begitu khusyu’.”

Ia pun menjawab, “Aku juga sedang puasa, puasa sunnah, alhamdulillah. Ini semua rahmat dari Allah SWT.”

Semua ini adalah riya’ yang jelas dan nyata. Akan tetapi di dalam riya’ itu sendiri ada sesuatu, ada daqa-iq (saat-saat tertentu). Setan datang dengan ben­tuk yang lain dari riya’. Ia datang ke­pada seseorang dan berkata, “Ikhlaslah karena Allah, niscaya Allah akan mem­buat manusia merasakan perbuatanmu. Namun jangan pernah engkau berbuat untuk mendapatkan pandangan manu­sia. Beramallah, biarlah Allah Yang akan membuat manusia merasakan apa yang engkau perbuat.”

Beberapa kali nafsumu membisikkan itu, mungkin saja setan akan berhasil dengannya. Bahkan, bisa saja engkau menganggapnya sesuatu yang teramat dalam dari keikhlasan.

“Aku beramal ikhlas karena Allah dan Dia akan membuat manusia merasakan amal itu dan menghormatiku.”

Apakah engkau mencari ikhlas? Untuk siapa ikhlasmu? Untuk Allah? Lalu bagaimana mungkin keikhlasan, yang merupakan nilai dari segala perbuatan dan amal yang ditujukan kepada Allah,  engkau palingkan untuk mendapatkan ridha dari manusia?

“Saya ikhlas lillah dan Allah-lah Yang akan membuat manusia mengetahui se­mua itu sehingga mereka akan datang ke­padaku, memuliakanku, dan memuji­ku.”

Engkau mengejar ikhlas untuk me­raih pandangan manusia tertuju kepada­mu?

Sungguh perkara ini teramat dalam, da­lam, dan dalam maknanya!

Contoh yang lain, setan datang dan berkata kepadamu, “Wahai saudaraku, shalatlah dan jangan sekali-kali berpa­ling kepada pandangan manusia. Ja­ngan pernah engkau menoleh kepada pujian dan sanjungan manusia. Ikhlaslah karena Allah. Setelah engkau melaku­kan shalat malam dengan khusyu’, cobalah engkau keluar rumah. Masya Allah, wanita-wanita akan terpana bila me­lihatmu, ‘Masya Allah, wajahmu me­mancarkan cahaya.’ Orang-orang yang melihatmu akan berkata, ‘Masya Allah, wajahmu bercahaya.’ Maka pada saat itu ucapkanlah, ‘Alhamdulillah.’ Itulah keistimewaan shalat malam, shalat yang penuh berkah, Allah akan memuliakan­mu. Allah akan ....”

Satu saat, satu saat, dan begitulah hingga tak terhingga saat demi saat yang setan akan memperdayamu untuk ber­paling dari Allah dalam perkara-perkara yang teramat dalam.

Contoh semacam itu dalam ujub, akan semacam itu pula halnya dalam taswif. Setan akan datang untuk mem­per­mainkan dan memperdayakan manu­sia dengan saat-saat tertentu yang ter­amat singkat namun tanpa disadari telah meluluhlantahkan beribu-ribu bangunan kebajikan bahkan menafikannya sama sekali.

Ketika seseorang hendak berbuat kebajikan, misalkan ia hendak berse­dekah dengan sekian juta rupiah, setan datang kepadanya, “Sungguh luar biasa, sedekah yang istimewa. Segera tunai­kan dan keluarkan. Akan tetapi sungguh mungkin esok lusa pendaftaran untuk memberikan donasi akan dibuka karena di daerah Fulan diberitakan telah terjadi pemboikotan. Tunggulah saat yang tepat untuk memberikan donasi. Hari ini tak mengapa engkau pergunakan dahulu untuk kepentingan ini dan itu!”

Jutaan rupiah yang hendak diinfak­kan pun engkau gunakan dan engkau ha­biskan untuk membeli ini dan itu dari barang-barang dunia. Setan pun pergi dan menertawakanmu.

Setan tidak datang untuk membisik­kan agar engkau menunda-nunda ke­bajikan secara mutlak. Ia hanya membi­sikkan agar engkau menundanya untuk saat-saat yang teramat singkat namun meluluhlantakkan semuanya. Itulah se­babnya, para salafush shalih, bila ter­lintas dalam hati mereka untuk berbuat kebajikan, mereka pun bersegera untuk me­lakukannya. Mereka tidak pernah merasa aman untuk menunda-me­nunda­nya.

Dua Pelajaran
Setelah pelajaran ini, paling tidak ada dua hal yang harus menjadi perhatian kalian.

Pertama, kalian sudah memperhati­kan semua jalan masuk setan dan apa pe­nawarnya, yakni dzikrullah dan isti‘adzah (mohon perlindungan kepada Allah).

Wahai murid yang menuju Allah, berapakah wiridmu untuk berdzikir da­lam sehari semalam? Berapa wiridmu dari membaca Al-Qur’an?

Sejak saat ini, sibukanlah dirimu de­ngan dzikir dan engkau akan melihat bagaimana setan lari darimu, karena setan tidak akan berani untuk berkumpul di sekitar hati yang senantiasa berdzikir kepada Allah SWT.

Kemudian sungguh-sungguhlah da­lam hal lain, yakni mendawamkan wu­dhu. Setiap kali engkau batal, berwu­dhu­lah lagi, karena wudhu adalah senjata bagi orang mukmin dari setan. Wudhu dan shalatlah dua rakaat, bila bukan pada waktu yang dilarang untuk melaku­kan shalat, untuk keluar dari khilaf di an­tara ulama. Bila engkau wudhu pada waktu terlarang shalat, seperti waktu sesudah shalat Ashar dan sesudah shalat Shu­buh hingga waktu isyraq (terbit mata­hari), ucapkanlah “Subhanallah wal hamdu lillah wa la ilaha illallah wallahu akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar)” empat kali sebagai ganti dari dua rakaat sunnah wudhu. Yang ter­penting, peliharalah selalu untuk senan­tiasa dalam keadaan wudhu.

A‘udzu billahiminasysyaithanirrajim, dzikir,  wudhu, yakni dawam wudhu (se­nantiasa dalam keadaan wudhu), tidur dalam keadaan wudhu, bangun menuju wudhu, adalah pukulan yang telak dan sesungguhnya terhadap setan.

Kedua, dari penjelasan ini engkau mengetahui dengan sesungguhnya bah­wa engkau memiliki musuh nyata yang tinggal di dalam dirimu.

Setelah mengetahui hal itu, apa yang harus engkau lakukan? Tentu engkau tidak rela untuk hidup dalam keadaan masa bodoh? Engkau adalah seorang murid yang menuju Allah SWT. Engkau merindukan kedekatan dengan Allah SWT.

Janganlah pernah rela untuk mem­biar­kan hari demi harimu, malam dan siang­mu, berlalu dengan muamalahmu yang tidak bernilai kepada Allah SWT. Karena itu, hiduplah dengan penuh ke­sigapan dan kesadaran. Tinggalkanlah segala alasan yang membuatmu diper­mainkan tak tentu arah oleh nafsumu, ka­rena setan akan menertawakanmu. Kembalilah kepada Allah SWT.

Seorang murid harus hidup dengan ke­hidupan yang penuh kesiagaan. Eng­kau ada di tengah kancah peperangan!

Namun, ketetapan hatimu terhadap keyakinan kepada Allah SWT dalam se­gala hal akan mengantarkan kepada satu saat ketika engkau akan melihat bagaimana cahaya akan terpancar di dalam hatimu dan semua keletihan dan kesusahpayahan dari mujahadahmu akan berubah menjadi kelezatan. Dan kelezatan dunia seluruhnya bila dihim­punkan tidak akan pernah menyamai se­saat pun dengan kelezatan ini, kelezatan bermanjaan dengan Allah, kelezatan ma‘rifah terhadap Allah, kelezatan dekat dengan Allah SWT.

Salah seorang ahli ma‘rifah pernah ber­kata, “Bila saja para raja itu menda­patkan sebagian dari apa yang kami dapatkan dari kelezatan bangun malam, niscaya mereka akan merebut kelezatan itu dari kami meski dengan menghu­nus­kan pedang kepada leher-leher kami.”

Perhatikanlah, mengapa para ahli ma‘rifah menyertakan para raja di saat memberikan gambaran tentang kelezat­an ini. Hal itu karena sesungguhnya para raja, setelah mendapatkan kekuasaan, mereka tidak akan lagi mencari sesuatu yang lebih tinggi dari kerajaan, selain mencari berbagai kelezatan.

Karena itu, carilah makna kelezatan semacam ini, yang melebihi kelezatan yang dirasakan oleh para raja.