Mengenai kebaikan umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Allah SWT berfirman di dalam Alquran:

كنتم خير امة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan berbuat baik dan mencegah kemungkaran. “ (QS Alu Imran: 110)

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, menegaskan :

انتم توفون سبعين امة انتم خيرها واكرمها على الله عز وجل

“Kalian mencukupi (kekurangan-kekurangan) tujuh puluh umat (sebelumnya). Di antara (mereka) kalian yang terbaik dan termulia dalam pandangan Allah Azza waJalla.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Turmudzl dan dinilai baik oleh Ibnu Majah).

Dalam hadits yang lain lagi beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, menyatakan :

اعطيت ما لم يعط احد من الأنبياء . فقلنا : يا رسول الله ما هو ؟ قال : نصرت بالرعب واعطيت مفاتيح الأرض وسميت أحمد وجعل التراب لى طهورا وجعلت امتي خيرا الأمم

“Kepadaku telah diberikan sesuatu yang tidak diberikan kepada seorang pun dari para Nabi (yang lain).” Kami (para sahabat) berta­nya, “Apakah itu, ya Rasulullah?” Beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menjawab, “Aku di­menangkan atas ketakutan, aku diberi kunci-kunci bumi (izin dari Allah untuk mendapatkan semua yang baik di muka bumi), aku dinamai ‘Ahmad’ (‘Yang paling terpuji’), tanah dijadikan thahur (suci dan dapat digunakan untuk bersuci) bagiku, dan umatku di­jadikan umat yang terbaik.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dengan is­nad yang baik).

Kemudian Allah SWT menyebut dalam firman-Nya beberapa di antara sifat-sifat mereka yang baik, yaitu menegakkan perintah ber­buat kebajikan dan mencegah kemungkaran, yang wajib dilakukan oleh kaum khawas dan kaum awam, yaitu dengan firman-Nya: Kalian meme­rintahkan berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Hal itu pun berkedu­dukan sebagai syarat bagi umat ini untuk dapat menjadi umat terbaik. ‘Umar bin Al-Khaththab r.a. pada saat menunaikan ibadah haji, ia me­nyebut ayat: Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Kemudian ia berkata, “Siapa benar-benar ingin menjadi seorang dari umat itu (umat terbaik) hendaklah ia menunaikan persyaratan yang ditetapkan oleh Allah mengenai itu.”

Sifat mulia ini disyaratkan pula oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam dalam sebuah hadits masyhur:

لا تزال طائفة من امتى ظاهرين على الحق لا يضرهم من خالفهم حتى يأتي امرالله

“Selagi masih ada segolongan dari umatku yang teguh berpegang pada kebenaran, niscaya orang-orang yang menentang mereka tidak akan membahayakan mereka hingga saat datangnya ketentuan Allah.”

Hadits tersebut merupakan pelestarian moto (semboyan) mene­gakkan kebenaran yang ada pada umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam

Lain halnya dengan orang-orang Ahlul-Kitab. Mereka meremehkan dan melupakan semboyan itu semata-mata karena maksud “berbasa-basi”, karena ingin dipuji, atau karena kemunafikan, atau karena hen­dak menukar yang baik dengan yang buruk. Oleh sebab itulah Allah SWT mengecam mereka di dalam Alquran:

لعن الذين كفروا من بني اسرا ءيل على لسان داود وعيسى ابن مريم ذالك بما عصوا وكانوا يعتدون . كانوا لا يتناهون عن منكر فعلوه لبئس ما كانوا يفعلون

Terlaknatlah orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan (ucapan, pernyataan) Nabi Ddwud dan Nabi ‘Isaputera Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu (berbuat) melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang kemungkaran yang mereka perbuat. Sung­guh amat buruklah apa yang^elalu mereka lakukan. (QS. Al-Ma’idah: 78-79).

Jelaslah, karena mereka itu mengabaikan semboyan tersebut (mene­gakkan kebenaran), mereka patut terkena laknat sebagaimana yang di­nyatakan oleh Nabi Dawud dan Nabi ‘Isa—’alaihimas-salam. Perbuatan mereka itu disebut “kedurhakaan” yang melampaui batas …. Perbuat­an yang amat tercela. Naudzu billah.

Kebaikan yang dikaruniakan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam tampak lebih jelas dan lebih menonjol dengan disebutnya umat lain, seperti umat Yahudi misalnya. Seiring dengan dipujinya umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk ma nusia, dan disebut pula kemuliaan sifatnya yang mempersiapkan umat ini menjadi umat terbaik; Allah SWT, menegaskan kecaman-Nya terhadap kaum Yahudi karena sifat-sifat dan perangainya yang amat buruk.

Allah SWT mengancam mereka akan mengalami hari depan yang buruk, hina dan malang akibat sikap mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah SWT (tanda-tanda yang menunjukkan kemahakuasaan Allah), membunuh sejumlah Nabi yang diutus Allah SWT dan keberanian mereka melanggar ketentuan-ketentuan hukum yang ditetapkan Allah SWT. Atas dasar kenyataan-kenyataan itu Allah SWT menyatakan didalam firman-Nya kepada umat ini melalui Rasul-Nya, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Di samping kekhususan istimewa yang ditunjukkan oleh ayat suci tersebut di atas, kepada umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam juga disampaikan kabar gembira, yakni betapapun banyak jumlah musuh-musuhnya, namun tidak akan membahayakan mereka. iMnyadhurrukum illd adzd. (Tidak akan membahayakan kalian, kecuali (hanya) mengganggu). Yakni sekadar gangguan kecil, seperti mengganggu dengan lidah mereka dan menghembuskan isu-isu yang membingungkan, dengan maksud menggoyahkan keimanan orang-orang yang belum meyakini sepenuhnya kebenaran agama Allah, yakni Islam. Gangguan sedemikian itu sama sekali tidak membuat umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam hancur berantakan, dan tidak pula dapat memerosotkan kekuatannya. Itu merupakan jaminan dan janji yang benar dari Allah SWT. Kemudian lebih ditegaskan lagi dengan janji yang kedua, yaitu seandainya sungguh-sungguh kaum Ahlul-Kitab memerangi kaum Mukminin yang mantap keimanannya, kaum beriman niscaya akan meraih kemenangan,

 وان يقاتلوكم يولوكم الأدبار

(dan kalau mereka memerangi kalian, niscaya mereka akan berbalik ke belakang [lari tunggang-langgang]).

Kemudian mengakhiri firman-Nya denganjanji ketiga, yaitu setelah Allah SWT menolong kaum beriman mengalahkan mereka (kaum Ahlul-Kitab) yang dikepalai oleh orang-orang Yahudi, mereka tidak akan mempunyai kekuatan lagi untuk melancarkan tindakan balas dendam: Tsumma hum layunsharun. kemudian mereka tidak tertolong lagi).

Akan tetapi, jaminan besar diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam itu disertai dua syarat: (1) Umat Islam harus menja­ga baik-baik dan mengindahkan dua masalah besar yang disebut Allah dalam ayat suci di atas. Yang pertama adalah benar-benar beriman kepada Allah (tuminuna billah). Yang kedua, mengajak manusia berbuat kebajik­an (ta’muruna bil-ma’ruf) sekaligus tanhauna anil-munkar (melarang se­mua yang mungkar). Dan jika umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam tidak ingin tertimpa bencana yang berasal dari kaum Yahudi, maka mereka (umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam) harus menunaikan ibadah dengan ikhlas kepa­da Allah, Tuhan mereka. Selain itu mereka harus juga mengamalkan sunnah Rasul-Nya, berpegang teguh pada ketentuan-ketentuan hu­kum yang termaktub di dalam Kitab Suci-Nya (Alquran) dan memper­siapkan perbekalan selengkapnya untuk berperang melawan musuh Allah SWT dan musuh merekajuga. Apabila mereka tidak mengindah­kan soal-soal tersebut, niscaya mereka mengalami malapetaka yang da­tang dari pihak lawan. Mentalnya akan menjadi rusak dan dikuasai oleh musuhnya.

Sungguhlah bahwa janji Allah SWT tidak akan meleset dan ber­ubah. Allah SWT tidak akan mencederai janji-Nya. Hal itu telah dibukti­kan oleh-Nya kepada para leluhur kita yang hidup saleh pada zaman dahulu. Yaitu orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah SWT, menyuruh manusia berbuat baik dan melarang semua yang mung­kar. Akan tetapi kaum Muslimin sendiri yang kemudian beruban keada­annya. Mereka meremehkan agama, meninggalkan kewajiban salat, me­makan riba, bergelimang di dalam syahwat (kesenangan-kesenangan duniawi), mengikutijejak setan, berpecah-belah menjadi bergolong-golongan dan kelompok-kelompok, meninggalkan amrma’ruf’dan nahi munkar dan seterusnya. Mereka tidak lagi bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tidak saling berkasih sayang di antara sesama mereka. Mere­ka tidak mempersiapkan kekuatan untuk berperang melawan musuh seperti yang dilakukan oleh para leluhurnya zaman dahulu. Bahkan kaum Muslimin (dewasa ini) tidak mempunyai rasa pertanggungjawab­an yang baik sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran-ajaran Islam ….

Para penguasa mereka sebagian besar tidak melaksanakan hukum sebagaimana yang telah ditetapkan Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya. Banyak di antara ulama mereka yang dikalahkan oleh semangat menge­jar keduniaan. Bahkan ada pula yang plin-plan (lain di hati lain di mu­lut), bermanis-manis bibir atau diam, sehingga mereka berada di ba­wah perintah para penguasa. Tidak sepatah kata pun yang mereka ucap­kan, tiada hukum Allah SWT yang ditegakkan, tidak bertindak terha­dap oknum-oknum yang berbuat kerusakan dan kekacauan, serta tidak mempunyai kepedulian kepada hal-hal yang perlu dihormati dan disu­cikan.

Karena mereka bersikap dan berlaku seperti itu, keadaan mereka yang pada mulanya baik akhirnya berubah menjadi buruk. Pada akhir­nya mereka jatuh di bawah kekuasaan orang yang tidak menyegani dan tidak menyayangi mereka. Sebab, Allah SWT tidak mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Kalau mereka kembali kepada jalan hidup semula, niscaya apa yang hilang akan kembali lagi kepada mereka. Kalau mere­ka benar-benar percaya kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan mempercayai mereka. Apabila mereka membela kebenaran Allah SWT, Allah SWT niscaya akan menolong mereka. Dan jika mereka menepati amanat yang mereka warisi dari leluhur mereka, niscaya Allah SWT akan membuktikan apa yang telah dijanjikan kepada mereka. Yang pasti adalah, tidak ada yang lebih benar dan dapat dipercaya selain firman Allah SWT.

Bangsa Arab dewasa ini dalam perjuangan mereka melawan manu­sia-manusia yang memusuhi para Nabi, para malaikat dan Kitab-Kitab Suci-Nya; setelah bagian terbesar dari mereka itu ingat kepada Allah SWT, Tuhan mereka, dan kembali kepada-Nya, lalu banyak berzikir (se­nantiasa ingat kepada Allah SWT), berdoa dan menunaikan salat sebagai­mana mestinya dengan rasa takut disertai harapan dan keyakinan bahwa pertolongan Allah SWT pasti akan diberikan kepada mereka sesuai de­ngan kadar kembalinya mereka, yakni sejauh mana mereka benar-be­nar telah kembali kepada Allah SWT. Selain itu juga sejauh mana pem­bangkangan masyarakat mereka terhadap Allah, sejauh mana penen­tangan masyarakat mereka terhadap hukum-hukum Allah dan sejauh mana perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat mereka secara te­rang-terangan dan terbuka.

Kami katakan, bahwa bangsa Arab—lepas dari bagaimana keadaan masyarakatnya—setelah mereka ingat kepada Allah SWT—dengan ingat kepada-Nya saja—Allah SWT sudah berkenan mengaruniakan banyak kebaikan dan pertolongan kepada mereka. Mereka terselamatkan dari soal yang sangat memalukan. Dunia berdiri di belakang mereka (dalam perjuangan melawan musuh—Israil). Ada yang langsung turut berpe­rang, ada yang mendukung, dan ada yang memperkuat. Ada yang beru­pa perbuatan nyata, dan ada pula yang berupa ucapan dan pernyataan.

Dengan sepenuh hati semua mengharap mudah-mudahan kebang­kitan iman dan Islam segera terjadi agar sejarah masa kini tidak terpu­tus dari sejarah masa silam, dan agar umat Islam dapat dengan bangga menceritakan kemuliaannya berdasarkan bukti dan kenyataan.

[Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 7]

Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah Karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani

Sebagaimana yang kita ketahui, dunia didirikan atas dasar ujian dan bencana, serta ditambah lagi dengan kesengsaraan dan kepedihan, dan diliputi oleh berbagai macam tipu daya dan hal-hal yang melalaikan. Oleh karena itu, banyak hal-hal yang menghalangi manusia dari perbuatan taat, dan banyak pula hal-hal yang dapat mengajak seseorang kepada kemaksiatan, kemudian walaupun banyak sekali yang menjadi penghalang bagi ketaatan dan pendorong kepada berbuat kemaksiatan.

Maka kesemuanya itu tercakup dalam empat sebab utama, yaitu:

1. Kebodohan
2. Keimanan yang lemah
3. Angan-angan kosong
4. Memakan makanan haram dan subhat

Dan Insya Allah SWT kami akan menjelaskan tiap-tiap bagian dari empat perkara ini dengan penjelasan yang singkat, yang akan menjadikan kita lebih berhati-hati atas keburukan dan rintangan-rintangan yang ditimbulkannya, serta bagaimana cara membebaskan diri darinya. Semoga Allah SWT memberi taufiq-Nya.

Kebodohan
Adapun kebodohan merupakan sumber dari segala keburukan, penyebab dari berbagai macam bencana, kebodohan berikut orang-orangnya termasuk dalam sabda Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam secara umum:

الدنيا ملعونة ملعون ما فيها الا ذكر الله وعالم ومتعلم

Artinya: “Dunia itu terlaknat, terlaknatlah apa yang ada didalamnya, kecuali dzikrullah, orang ‘alim dan orang yang menuntut ilmu.”

Dan diriwayatkan:

 ان الله لما خلق الجهل قال له أقبل فأدبر , فقال له أدبر فأقبل , فقال له : وعزتي ما خلقت خلقا أبغض إلي منك ولأ جعلنك فى شرار خلقي

Artinya: “Sesungguhnya Allah ketika mencipta-kan kebodohan Ia berkata kepadanya: “Kemarilah, ia pun pergi. Lalu Allah berkata kepadanya: “Pergilah,” maka ia pun datang. Allah berkata kepadanya  :”Demi Kemulian-Ku Aku tidak pernah menciptakan suatu makhluk pun yang lebih Aku benci dari pada dirimu, dan Aku pasti akan menjadikanmu dikalangan makhluk-Ku yang paling jahat.”

Imam Ali kw berkata: “Tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari kebodohan, dan musuh seseorang adalah kebodohannya.”

Celanya kebodohan itu telah diketahui baik secara akal maupun melalui riwayat-riwayat, hampir tidak ada yang tersembunyi dari seorangpun. Dan orang yang bodoh sudah pasti akan terjerumus dalam perbuatan meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, karena ia tidak mengetahui bagaimana cara melakukan ketaatan sebagai-mana yang diperintahkan Allah SWT, dan begitu pula terhadap perbuatan kemaksiatan seperti apa yang semestinya harus dihindari, dan tak seorang pun yang dapat keluar dari gelapnya kebodohan melainkan dengan cahaya ilmu. Sungguh indah syair yang dikatakan oleh Syeikh Ali bin Abi Bakar:

Kebodohan   bagaikan  api yang  membakar agama seseorang, sedangkan ilmu bagaikan air yang memadamkannya

Oleh karena itu, hendaknyalah engkau mempelajari ilmu yang Allah SWT wajibkan bagimu untuk diketahui, sedangkan untuk lebih memperluas ilmu bukan merupakan kewajibanmu, Justru kewajibanmu adalah mempelajari ilmu aqidah, yang mana keimananmu tidak akan sempurna tanpanya. Dan hendaknya engkau juga mempelajari ilmu tentang bagaimana caranya agar engkau dapat menunaikan setiap apa yang Allah SWT wajibkan bagimu dalam melaksanakan ketaatan kepadanya, dan bagaimana cara untuk menghindar dari setiap perbuatan kemaksiatan yang dilarang Allah SWT, karena hal ini merupakan suatu kewajiban yang harus segera dikerjakan tanpa di tunda-tunda lagi.

Malik bin Dinar ra pernah berkata: “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk dirinya sendiri, maka ilmu yang sedikit dapat mencukupinya, dan barangsiapa yang menuntut ilmu untuk kepentingan manusia, sesungguhnya kepentingan manusia banyak sekali.”

[Menuju Akhirat Dengan Bekal Taqwa Bagian 8]

Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli Khair Wad-Din Karya al-Alamah al-Habib Abdullah bin Alwi al Haddad

Termasuk kekhususan-kekhususan umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam ialah syariatnya yang sempurna.

Allah SWT berfirman di dalam Alquran:

اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا

Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai agama Islam menjadi agama kalian. (QS. Al-Ma’idah: 3)

Itu merupakan pernyataan yang jelas dari Allah Yang Mahabenar tentang penyempurnaan akidah dan penyempurnaan syariat. Tak ada kekurangan yang perlu dilengkapi dan tak ada kekurangan yang perlu ditambah. Kesempurnaan itu sudah merupakan kepastian yang menca­kup sifat keumuman Risalah yang berlaku secara universal, tak pan­dang tempat dan waktu. Itu disebabkan karena setiap Rasul sebelum Nabi dan Rasul terakhir (Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam) diutus Allah SWT kepada umat dalam zamannya. Jadi, merupakan Risalah khusus un­tuk masyarakat khusus dalam lingkungan khusus selama waktu terba­tas. Hukum-hukumnya dan ketentuan-ketentuan syariatnya ditentu­kan sekadar mencukupi kebutuhan menurut situasi dan kondisi masya­rakat dan lingkungan pada zaman itu.

Namun, karena Nabi kita Sayyidina Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam diutus kepa­da segenap umat manusia, maka Risalah beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam merupakan Risa­lah bagi seluruh manusia di segala zaman dan segala tempat. Risalah yang berdialog dengan fitrah manusia yang tidak berganti, tidak bergi­lir dan tidak mengalami perubahan. Fitrah yang atas dasar fitrah itulah Allah SWT menciptakan manusia. Di dalam Risalah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam terinci ketetapan-ketetapan syariat yang mencakup semua segi kehidupan manusia; baik yang berupa ketetapan-ketetapan, pengarahan, ketentuan-ketentuan hukum maupun pengaturan-pengaturan, agar ke­hidupan umat manusia dapat terus berlangsung, tumbuh, berkembang, dan bernuansa baru. Semuanya berlangsung di sekitar poros Risalah dan di dalam lingkarannya.

Cahaya Mereka Memancar di Hadapan Masing-Masing

Allah SWT berfirman di dalam Alquran Al-Karim:

يوم لا يجزى الله النبي والذين أمنوا معه نورهم يسعى بين ايديهم  وبأيمانهم يقولون ربنا أتمم لنا نورنا واغفر لنا

” Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beri­man yang bersama dia. Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah caha­ya bagi kami dan ampunilah kami.” (QS. At-Tahrim: 8).

Hadits suci telah menjelaskan kekhususan ini, bahwasanya Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menyatakan:

اني لا اعرف امتي يوم القيامة من بين الامم اعرفهم يؤتون كتبهم بايمانهم واعرفهم بسيماهم في وجوههم من اثرالسجود واعرفهم بنورهم يسعى بين ايديهم

“Pada Hari Kiamat, aku sungguh mengenal umatku di antara umat-umat (yang lain). Aku mengetahui mereka (umatku) menerima ki­tab-kitab (catatan-catatan amal perbuatan sewaktu hidup di du­nia) mereka dengan tangan kanan, aku mengenal mereka melalui tanda-tanda bekas sujud di wajah-wajah (jidat-jidat) mereka, dan aku pun mengenal mereka melalui cahaya yang memancar di de­pan mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad sahih).

[Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 6]

Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah Karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani

Sambungan dari [bagian 6]. Secara faktual, metodologi yang diterapkan penjajah dalam penulisan dan pemahaman sirah Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam. termasuk hasrat menggebu yang pernah berkobar di dada para penganutnya, terbukti telah mencapai titik nadir. Orang-orang yang dibutakan oleh gemerlap kemajuan Eropa dan mengadopsi cara Barat dalam memandang ajaran Islam sekarang terengah-engah karena kesalahan besar yang mereka ciptakan sendiri

Sesuatu yang wajar jika pertama kali melihat gemerlap cahaya, mata langsung terpesona dan terbutakan dari melihat kebenaran. Alhasil, ia tak lagi mampu membedakan yang benar dan salah. Akan tetapi, seiring berlalunya waktu, ketika mata sudah dapat melihat cahaya gemerlap itu dengan sudut Pandang yang lebihjernih, mulailah kebenaran hakiki terlihat jelas. Tak sedikit pun ada mega yang menghalanginya.

Inilah yang benar-benar terjadi saat ini. Mendung pekat telah lewat disapu angin, tergantikan oleh cara pandang yang jernih. Cara pandang kini dipegang oleh generasi baru Islam yang maju. Mereka selalu berpegang pada inti dari kebenaran setelah para pendahulunya di mabukkan hal-hal yang bersifat luar. Dengan pemikiran bebas dan kejernihan pandangan yang mereka miliki, generasi baru ini telah sampai pada keyakinan bahwa yang disebut sebagai hal-hal adi alami atau ‘mukjizat” sebenarnya tidak akan mungkin disingkirkan dan kebenaran ilmu pengetahuan.

Alasannya, disebut “luar biasa” karena hal itu tidak biasa terjadi di hadapan umat manusa. Sementara itu, kebiasaan sama sekali hdak boleh dijadikan tolok ukur ilmiah untuk menentukan apakah sesuatu itu memang mungkin terjadi atau tidak. Kapan pun dan di rnana pun ilmu pengetahuan tidak akan pernah sampai pada kesimpulan bahwa hanya yang dapat dilihat mata manusialah yang nyata dan mungkin terjadi, sedangkan yang tidak terlihat mata manusia dianggap tidak nyata karena itu tidak mungkin terjadi.

Saat ini, setiap pakar dan peneliti mengetahui bahwa pencapaian terakhir ilmu pengetahuan berkenaan dengan masalah ini menegaskan kalau hubungan sebab dan akibat yang kasat mata sebenarnya tak lain adalah hubungan biasa yang kemudian melahirkan analisis dan justifikasl. Setelah itu, dibuatlah ketetapan hukum yang sejalan dengan hubungan tersebut, bukan sebaliknya.

Jadi, jika sekarang Anda merninta pendapat prinsip hukum ilmiah tentang kejadian adi-alami atau mukjizat Ilahi, ia pasti akan menjawab seperti yang diketahui semua ilmuwan yang menyelami peradaban modern, yaitu bahwa hal-hal adi-alami dan mukjizat Tuhan tidak berada dalam kawasan yang “dikuasai’l oleh hukum ilmiah. Hal ini disebabkan jika mukizat itu ternyata benar-benar terjadi sekarang dan dapat “dilihat mata, yang diperlukan hanya menyikapi dan menjelaskan dengan sebaik-baiknya untuk kemudian menetapkan hukum tersendiri yang sesuai dengan hal adi-alami tersebut

Anggapan para ilmuwan bahwa pengaruh yang ditimbulkan sebab atas akibat itu bersifat pasti, kekal, dan menghapus semua kemungkinan adanya perubahan sekarang telah berlalu. Yang kini didengungkan malah kebenaran yang telah berabad-abad dibela ilmuwan muslim yang dipelopon Imam Al Ghazali, yaitu bahwa hubungan antara sebab dan akibat itu bersifat temporal. Maka dari itu, ilmu pengetahuan tak bisa dianggap lebih dari sekadar bangunan yang didirikan di atas hubungan temporal tersebut. Sementara itu, hakikat di balik hubungan tersebut tetap berada di tangan Allah Yang Maha agung yang telah menciptakan segala sesuatu dan memberinya petunjuk

Lihatlah betapa ilmuwan empiris sekaliber David Hume telah menjelaskan semua kebenaran ini dengan sangat cermat.

Tidaklah keliru jika orang-orang yang menghormati akal dan realitas mengajukan satu syarat untuk diterimanya sebuah berita, baik yang mengandung informasi adi-alarni maupun yang biasa-biasa saga. Syarat dimaksud adalah berita itu harus sampai kepadanya melalui jalur ilmiah yang bersih dan didirikan di atasprinsip periwayatan, sanad, dan kaidah jarh wa ta’dil. Jika itu dipenuhi kebenaran
berita tersebut patut diyakini. Akan tetapi, ruang int tidak cukup luas untuk merinci lebih jauh mengenai masalah ini.

Oleh karena itu, semua ilmuwan pasti akan terkejut ketika membaca kembali pernyataan Husen Haikal dalam mukadimah Hoyat Muhammad yang ditulisnya Dalam buku tersebut, ia mengatakan, “Saya tidak akan menggunakan apa yang tertulis di dalam kitab k tab sirah dan hadits karena saya lebih memilih untuk melakukan penelitian int berdasarkan metode ilmiah_ “

Artinya, pembahasan Husen Haikal dalam buku itu tidak akan merujuk pada hadits Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam sekalipun yang terdapat dalam kitab Shohih Al -Bukhori dan Shohlh Muslim, demi menghormati ilmu pengetahuan, Dengan kata lain, metodologi supercanggih dan unik yang diterapkan Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim dalam penwayatan hads dinilai Husen Haikal sebagai penyimpangan’ dari ilmu pengetahuan. Sementara itu, teknik ‘meraba raba dalam gelap’ yang kemudian diberi nama “metode pandangan subjektif justru dianggap sebagai penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.

Bukankah itu bencana besar bagi ilmu pengetahuan?

[Fiqih Sirah Bagian 7]

Fiqih Sirah Karya As-Syaikh Said Ramadhan Al-Buthi

Di antara berbagai kekhususan yang ada pada umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam ialah, bahwa syariatnya merupakan yang termudah dibanding de­ngan syariat-syariat agama lain.

Hal itu dinashkan dalam Anjuran. Setiap faridhah (kewajiban) yang oleh syariat diharuskan pelaksanaannya oleh Allah SWT, diberi keringanan dengan terbukanya pintu rukhshah (dispensasi) bila terjadi halangan. Taruhlah misalnya masalah salat. Salat adalah kewajiban terbesar yang harus ditunaikan, bahkan merupakan tiang agama dan asasnya yang paling fundamental.

Meski demikian Allah SWT menetapkan hukum-hukum khusus yang berbeda dengan hukum pokoknya, mengingat kemungkinan terjadinya keadaan terten­tu, seperti sakit, bepergian jauh, dalam keadaan perang, dalam keadaan tidak terdapatnya pakaian yang menutup sekujur badan, tidak diketa­huinya arah kiblat karena bingung atau lupa, dan ketiduran.

Kemudahan merupakan ciri khusus syariat agama Islam. Mengenai itu Allah SWT berfirman:

يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر

Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesu­karan bagi kalian. (QS. Al-Baqarah: 185)

Berkaitan dengan itu Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menyatakan:

ان الله رضي لهذه الامة اليسر وكره لها العسر

”Sungguhlah, bahwa Allah meridhai kemudahan bagi umat ini dan tidak menyukai kesukaran baginya.” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dengan isnad shahih).

Ahmad (bin Hanbal) di dalam Musnad-nya mengetengahkan se­buah hadits dari Hudzaifah yang menuturkan sebagai berikut. Pada suatu hari (saya melihat) Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam sujud (demikian lama) tidak mengangkat kembali kepalanya, sehingga saya mengira beliau wafat. Mengenai hal itu beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam berkata:

ربي استشارني (الحديث) وفيه : احل لنا كثيرا مما شدد على من قبلنا ولم يجعل علينا في الدنيا من حرج فلم اجد شكرالا هذه السجدة . رواه احمد بسند حسن

“Tuhanku minta pendapatku” (al-hadits). Dalam hadits itu terdapat nash berikut, “Allah menghalalkan banyak hal bagi kita dari yang pernah diketatkan bagi orang-orang sebelum kita. Di dunia ini Allah tidak membebani kita dengan hal-hal yang memberatkan. Aku tidak menemukan bagaimana cara bersyukur kecuali dengan sujud itu.” (Al-Mawahib: 382).

Dengan karunia kemudahan tersebut Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam benar-benar merasa bangga. Beliau mengatakan:

انى بعثت بالحنيفية السمحة

“Aku diutus Allah membawakan agama yang lurus lagi toleran.” (Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dengan isnad baik [Kasyful-Khufa: 217]).

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam mewanti-wanti para utusan dan delegasi yang di­utus ke berbagai daerah dan negeri untuk menyampaikan agama Is­lam, supaya bersikap lemah lembut:

بشروا ولا تنفروا ويسروا ولا تعسروا

“Gembirakanlah mereka (dengan berita baik), janganlah kalian mem­bentak-bentak. Permudahlah dan jangan kalian persukar.” (Diriwa­yatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Bukhari dan Muslim).

Itu merupakan kaidah penting mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan menurut akidah. Semuanya mudah, tak ada kesukar­an. Kemudahan yang memberikan inspirasi kepada hati yang dapat dirasakan dengan mudah, dan itulah yang membuat orang Muslim mempunyai tabiat khusus, yaitu toleran. Tidak ada sesuatu yang di­paksakan dan dipersulit seperti yang dahulu pernah dialami oleh umat-umat sebelumnya.

[Kekhususan Umat Nabi Muhammad SAW Bagian 5]

Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah Karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bersabda:

  من سرته حسنته وسائته سيئته فهو مؤمن

Artinya: “Barangsiapa yang perbuatan baiknya membuatnya senang, dan kejelekannya membuatnya susah maka ia adalah seorang mukmin.”

Wahai orang yang beriman, Apabila Allah SWT memberimu kesempatan untuk melakukan perbuatan taat, hendaknya engkau bertambah gembira dan syukurmu kepada Allah SWT yang telah memuliakanmu agar engkau dapat mentaatinya, dan Ia telah memilihmu agar engkau dapat bermuamalah dengan-Nya. Oleh karena itu, mintalah kepada-Nya dengan sebab keutamaan-Nya agar Allah SWT menerima semua amal saleh yang engkau telah diberi kemudahan untuk melakukannya.

Imam Ali kw berkata: “Hendaknya kalian lebih mementingkan atas dikabulkannya amal perbuatanmu dari pada amal itu sendiri, karena sesungguhnya tidaklah sedikit amalan yang dikabulkan.”

Hendaknya engkau selalu mengakui kekuranganmu dalam menunaikan kewajiban Tuhanmu, meskipun usaha dan pengorbanan yang kau lakukan telah cukup besar dalam mentaatinya, karena sesungguhnya hak-Nya atas dirimu jauh lebih besar. Ia menciptakan-mu dari sesuatu yang tidak ada, kemudian Ia memberimu berbagai macam kenikmatan, dan Ia memperlakukanmu dengan berbagai karunia dan kemurahan-Nya, berkat kekuatan-Nya lah engkau dapat mentaati-Nya, dan berkat taufik dan rahmat-Nyalah engkau dapat menyembah-Nya.

Janganlah engkau mengotori pakaian keimananmu, dan membuat kotor hatimu dengan melakukan perbuatan yang dilarang oleh Tuhanmu. Setiap kali engkau melakukan perbuatan dosa meskipun terkadang, hendaknya engkau segera bertaubat, benar-benar kembali dan benar-benar menyesal serta memperbanyak istighfar, dan hendaknya engkau selalu dalam keadaan takut dan khawatir atas dosa-dosamu. Karena sesungguhnya seorang mukmin itu selalu dalam keadaan takut dan kekhawatiran meskipun ia benar-benar ikhlas dalam ketaatannya dan mempunyai perilaku yang baik.

Sebagaimana engkau juga mengetahui keadaan para Nabi sedangkan mereka adalah orang-orang yang ma’shum, begitu pula keadaan para wali sedangkan mereka adalah orang-orang yang terjaga, mereka selalu dipenuhi oleh rasa takut dan khawatir, padahal amal perbuatan mereka sangat banyak dan dosa-dosa mereka sedikit atau bahkan tidak melakukan dosa, maka semestinyalah keadaan yang demikian itu (rasa takut dan khawatir akan dosa-dosa) hendaknya lebih layak dan lebih pantas terjadi pada dirimu.

Mereka adalah orang-orang yang lebih mengenal luasnya rahmat Allah SWT dan memiliki prasangka lebih baik kepada Allah SWT melebihi dirimu, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam mengharapkan pengampunan Allah SWT dan memiliki pengharapan yang lebih besar terhadap kemuliaan Allah SWT melebihi dirimu.

Oleh karena itu, ikutilah jejak mereka niscaya engkau akan selamat, dan teladanilah jalan kehidupan mereka niscaya engkau akan beruntung, mintalah perlindungan kepada Allah SWT, barangsiapa yang berlindung kepada Allah SWT berarti ia telah ditunjukkan pada jalan yang lurus.

[Menuju Akhirat Dengan Bekal taqwa Bagian 7]

Risalatul Mudzakarah Maal Ikhwanul Muhibbin Min Ahli Khair Wad-Din Karya al-Alamah al-Habib Abdullah bin Alwi al Haddad

Buku Hayat Muhammad yang ditulis Husen Haikal adalah contoh paling konkret tentang penulisan sirah Nabi dengan cara sesat seperti ini. Dengan bangga, Husen Haikal berkata, “Saya tidak akan menggunakan apa yang tertulis di dalam kitab-kitab sirah dan hadits karena saya lebih memilih untuk melakukan penelitian ini berdasarkan metode Ilmiah.”

Contoh lain penulisan sirah dengan “metode modern” ini terdapat dalam beberapa artikel yang dirilis oleh mendiang Muhammad Farid Wajdi dalam jurnal Nor AI-Islam dengan judul AI-Sirah Al-Muhammadiyyah tahta adh-Dhau’al-‘ilm  wa Al-Falsafah. Di dalam artikel tersebut terdapat kalimat yang berbunyi, “Para pembaca rupanya dapat memaklumi bahwa dalam penulisan sirah ini, kami tidak akan menganggap suatu kejadian luar biasa sebagai mukjizat selama kejadian itu masih bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa meskipun sedikit rumit.”

Contoh lain, tulisan beberapa orientalis tentang kehidupan Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam. Semua tulisan sejarah yang mereka buat didasarkan pada aliran individualis, sebagaimana telah kami terangkan sebelumnya.

Anda mungkin sering kali mendapati bahwa mereka memuji kepribadian Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam. Mereka mengacungkan jempol atas keagungan dan karakter beliau yang luhur. Akan tetapi, semua itu dimunculkan tanpa mengingatkan para pembaca akan peran kenabian atau wahyu di dalam kehidupan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam. Mereka juga sama sekali tidak memperhatikan sanad dan riwayat yang sebenarnya cukup vital untuk meyakini sebuah peristiwa benar-benar terjadi.

Begitulah para gembong aliran baru ini terus menerapkan metodologi aliran individualis dalam penulisan sejarah Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam. Sebuah hamparan tempat yang sebenarnya teramat luas bagi mereka untuk melihat keluhuran sirah Nabi yang didukung dengan bukti-bukti meyakinkan. Namun, mereka lebih memilih menjadikan tendensi pribadi, hasrat individu, dan tujuan jangka panjang para penjajah sebagai otoritas yang menentukan kebenaran sejarah dan segala hal yang berkaitan dengannya. Lebih buruk lagi, mereka juga menjadikan ketiga hal itu sebagai penentu apa saja yang dapat diterima dan disangkal dari kehidupan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam.

Alhasil, sekarang kita melihat, hampir semua kejadian luar biasa yang dipaparkan secara mutawahr dalam sunah, bahkan disampaikan pula dalam Al-Qur’an, mereka takwilkan sekehendak hati.

Sebagai contoh, mereka menakwilkan serangan burung Ababil yang disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai wabah cacar

Selain itu, mereka menakwilkan peristiwa Isra yang secara eksplisit disebutkan dalam AI-Qur’an sebagai per jalanan roh Muhammad ke alam mimpi.

Mereka juga menakwilkan para malaikat yang dikirim Allah Swt. untuk membantu pasukan muslim dalam Perang Badar sebagai dukungan spiritual dari Yang Mahakuasa untuk pasukan Islam.

Masih banyak lagi interpretasi menggelikan yang mereka kemukakan. Mereka menyatakan, misi kenabian yang diemban Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, keimanan para sahabat yang suci, dan semua pembebasan yang dilakukan oleh Islam, tidak Iebih dari sebuah gerakan revolusi yang dibangun di atas latar belakang ekonomi demi mencapai kekuasaan dan sumber penghidupan. Bahkan, mereka juga menyatakan bahwa gerakan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam sebenarnya hanyalah gerakan reaktif yang dilakukan kaum miskin untuk melawan kaum feodal dan para tuan tanah.

Begitulah, metode sesat yang biasanya secara khusus digunakan untuk mereinterpretasi sirah Nabi, dan secara umum diterapkan dalam penulisan ulang sejarah Islam, terbukti menjadi racun berbahaya yang tidak disadari oleh sebagian umat Islam. Sementara itu, di kalangan kaum munafik dan para pengkhianat, metode sesat ini dengan bangga dikampanyekan

Rupanya, orang-orang yang buta mata hatinya sama sekali tidak dapat melihat siasat busuk kaum penjajah. Yang didengungkan sebagai ‘gerakan reformasi keyakinan’ di tengah umat Islam itu sebenarnya adalah senjata pemusnah massal yang mereka arahkan tepat ke jantung Islam untuk menghancurkan agama agung ini sampai ke akarakarnya

Mereka rupanya juga tidak menyadari bahwa upaya menyingkirkan perkara-perkara gaib yang dinilai tidak masuk akal dari Islam sebenarnya akan menghancurkan agama yang selama ini mereka peluk. Alasannya, wahyu Ilahi yang menjadi mata air agama islam pada tingkat tertentu dapat dianggap sebagai hal yang juga tidak masuk akal” karena berasal dari Tuhan yang gaib. Jalan ke arah itu pun telah mereka rintis dengan membuang hal-hal adi-alami yang terdapat di dalam sirah Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam. dengan dalih, tidak dapat diterima ilmu pengetahuan modern. Cepat atau lambat, mereka akan berani menolak wahyu Allah karena surga, neraka„ hari kebangkitan, dan berbagai hal adi-alami yang lain mereka anggap tidak dapat diterima pengetahuan modern.

Mereka rupanya benar benar telah lupa bahwa agama yang benar sama sekali tidak membutuhkan kebersesuaian dengan zaman yang dilalui manusia, juga sama sekali tidak membutuhkan reformasi yang menggoyahkan sendi-sendinya.

Semua itu rupanya telah hilang dari pandangan mereka. Padahal, untuk mengetahui kebenaran, sejatinya tidaklah sulit asalkan mereka bersedia menerima kebenaran itu sendiri. Akan tetapi, rupanya kemajuan dan modernisme di Eropa telah membutakan mata mereka. Mereka pun tidak lagi dapat menggunakan akal sehat, kecuali hanya sedikit. Padahal. untuk memahami hal yang mereka pelajari dibutuhkan akal sehat. Akal mereka rupanya telah benar-benar diselimuti utopia “reformasi” yang akan merekonstruksi” ajaran Islam, sebagaimana terjadi pada ajaran Kristen di Eropa.

Demikianlah penjelasan singkat di atas membuktikan bahwa soko guru dari aliran modern ini tak lain adalah penyembahan terhadap ego, alih-alih mengedepankan kebenaran ilmiah yang sejalan dengan akal sehat.

[Fiqih Sirah Bagian 6]

Fiqih Sirah Karya As-Syaikh Said Ramadhan Al-Buthi